BAB

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Berdasarkan survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012-2013, angka kematian ibu (yang berkaitan dengan kehamilan,persalinan dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan Negara-negara tetangga.

Yang menjadi sebab utama kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan (27%), pre-eklampsia atau eklampsia (23%), kemudian terinfeksi (11%), abortus (15%), komplikasi puerperium (5%), emboli onstetrik (5%), partus lama (5%) dan lain-lain (11%) (Riskesdas, 2013).

Perdarahan merupakan penyebab kematian ibu terbanyak. Perdarahan dapat terjadi pada setiap usia kehamilan, dan pada kehamilan muda sering dikaitkan dengan kejadian abortus (Wiknjosastro, 2010).

Diwilayah Asia Tenggara, World Health Organization (WHO) memperkirakan 4,2 juta abortus dilakukan setiap tahunnya diantara 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia. Resiko kematian akibat abortus tidak aman di wilayah Asia Tenggara diperkirakan antara 1 sampai 250, Negara maju hanya satu dari 3700. Angka tersebut memberikan gambaran bahwa masalah abortus di Indonesia masih cukup tinggi (Lusa, 2012).

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho, 2010). Macam abortus ada 4 yaitu abortus spontan, abortus infeksiosa, Missed abortion dan abortus habitualis. Abortus spontan sendiri meliputi abortus imminens, abortus insipiens, abortus inkomplit dan abortus komplit (Wiknjosastro, 2010).

Abortus inkomplit ialah pengeluaran sebaguan hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Terjadi ketika placenta tidak dikeluarkan bersama janin pada saat terjadi aborsi (Varney, 2007). Komplikasi abortus jika tidak tertangani dapat terjadi perdarahan , perforasi, infeksi dan syok. Bila terjadi perdarahan yang hebat akibat abortus inkomplit dianjurkan segera mengeluarkan sisa hasil konsepsi secara manual agar jaringan yang mengganjal terjadinya kontraksi uterus segera dikeluarkan. Kontraksi uterus dapat berlangsung baik dan perdarahan bisa berhenti.Selanjutnya dilakukan tindakan kuretase.

Di rumah sakit umum Cut Mutia mulai bulan maret sampai dengan  bulan mei jumlah kasus abortus sebanyak 39 orang.(data rekam medic ruang ok)

B. Tujuan
1. Tujuan Umum

Agar mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan Pada Ny.N dengan Abortus Inkomplit GIII PII AI usia kehamilan 12 minggu di Ruang oprasi kamar OK Rumah Sakit Umum Cut Meutia.

2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian kepada ibu hamil
b. Dapat melakukan interpretasi data
c. Dapat merumuskan diagnosa kebidanan sesuai hasil pengkajian
d. Dapat mengidentifikasi dan antisipasi diagnosa potensial
e. Dapat mengidentifikasi tindakan segera
f. Dapat menyusun perencanaan sesuai diagnosa yang dirumuskan
g. Dapat melaksanakan tindakan sesuai rencana yang sudah disusun
h. Dapat melakukan evaluasi tindakan.

 

C. Manfaat 
1. Bagi Penulis

Dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh serta mendapatkan pengalaman dalam melaksanakan asuhan kebidanan secara langsung pada ibu sehingga dapat digunakan berkas penulis didalam melaksanakan tugas sebagai bidan.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai tambahan kepustakaan dan perbandingan asuhan kebidanan pada ibu dengan abortus.

3. Bagi lahan Praktek

Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan dalam mengambil langkah-langkah kebijaksanaan dalam rangka meningkatkan pelayanan pada ibu dengan abortus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUN PUSTAKA

 

A. Teori kasus
1. Kehamilan
a. Pengertian Kehamilan

Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implementasi (Wiknjosastro, 2016).

Menurut Wulanda (2011) Kehamilan merupakan proses yang alamiah.Perubahan-perubahan yang terjadi pada wanita selama kehamilan normal adalah bersifat fisiologis bukan patologis. Kehamilan juga merupakan proses alamiah untuk menjaga kelangsuangan peradaban manusia. Kehamilan baru bisa terjadi jika seorang wanita sudah mengalami pubertas yang ditandai dengan terjadinya menstruasi. Banyak hal dan banyak organ yang terlibat selama proses kehamilan. 

Sedangkan menurut Manuaba (2012) Proses kehamilan merupakan mata rantai  yang bersinambung dan terdiri dari : Ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implementasi) pada uterus, pembentukan placenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm.

b. Pembagian Kehamilan

Menurut Wiknjosastri (2010) kehamila dibagi menjadi 3 triwulan yaitu:

1) Triwulan I : Kehamilan antara 0-12 minggu.
2) Triwulan II : Kehamilan antara 13-27 minggu.
3) Triwulan III : Kehamilan antara 28-40 minggu.
c. Macam-macam Kehamilan

Kehamilan dibagi menjadi 2 yaitu:

1) Kehamilan fisiologi

Merupakan masa kehamilan dimulai hasil dari konsepsi sampai lahirnya janin tanpa adanya komplikasi maupun kelainan yang berhubungan langsung dengan kehamilan. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. 

2) Kehamilan patologis

Menurut Suparyanto (2011), patologi kehamilan adalah penyulit atau komplikasi yang menyertai ibu saat hamil. Komplikasi yang berhubungan dalam kehamilan yaitu:

a) Hyperemesis  gravidarum
b) Mola hidatidosa
c) Kelainan lamanya kehamilan
d) Kehamilan ganda
e) Kelainan air ketuban
f) Abortus
g) Kehamilan ektopik terganggu
h) Hipertensi atau pre-eklapmsia atau eklampsia.
2. Abortus
a. Pengertian

Abortus adalam ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho, 2010).

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (Wiknjosastro, 2010).

 

 

 

 

b. Macam-macam abortus
1) Abortus spontan

Adalah terminasi kehamilan  sebelum periode viabilitas janin atau sebelum gestasi minggu ke 20 atau berat badan 500 gram (Varney, 2007). Abortus spontan dibagi menjadi:

a) Abortus Imminens

Adalah perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan (Syaifuddin, 2006).

b) Abortus Insipiens

Adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi servik uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus (Varney, 2007).

c) Abortus inkomplit

Adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Terjadi ketika placenta tidak dikeluarkan bersama janin pada saat terjadi aborsi (Varney, 2007).

d) Abortus Komplit

Adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan dari kavum uteri (Saifuddin, 2006).

2) Abortus infeksiosa

Adalah abortus yang disertai komplikasi infeksi. Adanya penyebaran kuman atau toksin kedalam sirkulasi dan kavum peritoneum dapat menimbulkan septicemia, sepsis atau peritonitis. Atau disebut juga abortus yang disertai infeksi pada genetalia sedang (Wiknjosastro, 2010).

3) Missed Abirtion (Retensi Janin Mati)

Perdarahan pada kehamilan muda disertau dengan retensi hasil konsepsi yang telah mati hingga 8 minggu atau lebih. Kematian janin berusia 20 minggu, tetapi janin mati tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih (Wiknjosastro, 2010).

4) Abortus Habitualis

Adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut (Manuaba, 2010).

3. Abortus Inkomplit
a. Pengertian

Abortus inkomplit adalah dimana sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal didalam uterus dimana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum, peradarahannya masih terjadi dan jumlahnya bisa banyak atau sedikit tergantung pada jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian placenta site masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus (Saifuddin, 2010).

b. Etiologi 

Penyebab keguguran sebagian tidak diketahui secara pasti tetapi terdapat beberapa faktor sebagai berikut:

1) Faktor pertumbuhan hasil konsepsi
2) Kelainan kromosom
3) Lingkungan kurang sempurna
4) Pengaruh dari luar seperti radiasi, virus atau obat-obatan yang dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus.
5) Kelainan pada placenta.
6) Penyakit ibu yang mendadak seperti tifus abdominalis, malaria dan lain-lain dapat menyebabkan abortus toxic, virus dan plasmodium dapat melalui placenta masuk kejanin, sehingga menyebabkan kematian janin kemudian terjadilah abortus.
c. Komplikasi

Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah

1) Perdarahan

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.

2) Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperrentrofleksi.

3) Infeksi

Pada abortus ini septic virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke miometrium, tuba, parametrium dan peritoneum. Apabila infeksi menyebar lebih jauh, terjadilah peritonitis umum atau sepsis dan kemungkinan diikuti oleh syok.

4) Syok

Pada abortus biasanya terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (Sarwono, 2008).

d. Patofisiologi

Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing diuterus.Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, vili korialis belum menembus desidua secara mendalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8-14 minggu, vili korialis sudah menembus lebih dalam hingga placenta  tidak dapat dilepaskan secara sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan.

Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada placenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong amnion atau tampak didalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum).

e. Penanganan Abortus Inkomplit

Tentunya, setiap penyakit dan juga gangguan pada tubuh harus ditangani dengan cara yang tepat. Cara penanganan pada kasus abortus inkomplit yaitu memastikan bahwa rahim sudah dalam kondisi yang cukup bersih dari jaringan kehamilan yang masih tersisa dan juga menempel pada rahim. Hal ini dianjurkan untuk mencegah komplikasi dan juga perdarahan yang berat.

Pada umumnya dokter akan memantau terlebih dahulu selama beberapa hari sampai semua jaringan kehamilan keluar dan luruh secara alami. Jika jaringan kehamilan tidak keluar, biasanya dokter akan memberikan obatb perangsang rahim untuk mendorong sisa kehamilan agar keluar . Cara ini tentunya dilakukan bagi seorang wanita yang tidak memiliki kontradiksi obat dan tidak mengalami komplikasi.

Tentunya cara penanganan tersebut sudah selayaknya diberikan oleh tenaga kesehatan, kemungkinan anda akan disaranankan untuk menjalankan rawat inap di Rumah Sakit karena kemungkinan besar anda akan mengalami perdarahan yang sangat banyak serta efek samping seperti mual, muntah, lelah, sakit kepala dan juga diare.

Cara terakhir yang akan dilakukan oleh dokter tidak lain adalah tindakan kuretasi. Tindakan ini dilakukan jika anda harus mendapatkan penanganan dengan segera  yang nantinya akan mengancam jiwa.

Varney 1997 menjelaskan bahwa proses manajemen merupakan proses pemecahan masalah yang ditemukan oleh perawat dan bidan pada awal tahun 1970-an. Proses ini memperkenalkan sebuah metode dengan perorganisasian pemikiran dan tindakan-tindakan  dengan urutan yang logis dan menguntungkan baik bagi klien maupun  bagi tenaga kesehatan. Proses ini menguraikan bagaimana perilaku yang diharapkan dari pemberi asuhan. Proses manajemen ini bukan hanya terdiri dari pemikiran dan tindakan saja melainkan juga perilaku pda setiap langkah agar pelayanan comprehensive dan aman dapat tercapai.

Dengan demikian proses manajemen harus mengikuti urutan yang logis dan memberi pengertian  yang menyatukan pengetahuan,hasil temuan, dan penelitian yang terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang berfokus pada manajemen klien.

Proses manajemen terdiri dari 7 (tujuh) langkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secara periodic. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang diaplikasikan dalam situasi apapun. Akan tetapi setiap langkah dapat diuraikan menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan bias berubah sesuai dengan kebutuhan klien.

Adapun langkah manajemen varney, yaitu:

a. Langkah I  Pengumpulan data dasar

Yaitu dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, meninjau catatan terbaru dan sebelumnya dan meninjau data laboratorium dan membandingkan dengan hasil studi.

b. Langkah II Interpretasi Data Dasar

Yaitu dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnose dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan sehingga ditemukan masalah atau diagnose yang spesifik.

c. Langkah III  Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial

Yaitu mengidentifikasi masalah dan diagnose potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnose yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati kilen bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnose atau masalah ini benar-benar terjadi.

d. Langkah IV  Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera

Pada langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan yaitu bukan hanya asuhan kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan. Beberapa data yang dikumpulkan dapat menunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan segera, seperti konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.

e. Langkah V  Rencana Tindakan

Menurut Arief dan Kristiyanasari 2009,rencana tindakan yang dapat dilakukan pada Anak dengan Demam tifoid.

f. Langkah VI  Pelaksanaan

Dilakukan asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima secara efisien dan aman. Perencanaan ini bias dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya.

g. Langkah VII  Evaluasi

Dilakukan evaluasi keevektivan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar terpenuhi karena ada kemungkinan bahwa sebagian rencana telah efektif sedang sebagian belum efektif.

 

 

 

 

 

 

C. Teori Pendokumentasian Kebidanan

Metode pendokumentasian yang digunakan dalam asuhan kebidanan pada  ibu bersalin dengan robekan jalan lahir menggunakan SOAP menurut Varney yaitu:

S : Subyektif

Subjektif menggambarkan pendokumentasian hanya pengumpulan data klien melalui anamnesa,dimana anamnesa ini akan menghasilkan jawaban dari pasien.

O : Obyektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik pasien,hasil laboratorium yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung assessment,diagnose dan masalah serta kebutuhan.

A : Assessment

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpestasi data subyektif dan obyektif dalam suatu identifikasi.

a) Diagnosa kebidanan,masalah, kebutuhan.
b) Antisipasi diagnose lain/Masalah potensial.
c) Perlu tindakan segera oleh bidan atau dokter kolaborasi atau rujukan.

P : Planning

Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

TINJAUAN KASUS

 

A. Tinjauan Kasus

            Agar mampu  melaksanakan Asuhan Kebidanan Pada Ny.N dengan Abortus Inkomplit GIII PIIAI usia kehamilan 12 minggu di Ruang oprasi kamar OK Rumah Sakit Umum Cut Meutia.

Ruang     :Ok

Tanggal Masuk:21 Mei 2018

No. RM :49 42 42 

1. Biodata
a. Data Subjektif
1) Biodata

Nama:Ny.NNama : Tn. M

Umur:42 TahunUmur: 53 Tahun

Jenis kelamin:PerempuanJenis Kelamin: Laki laki

Alamat:Tumpok TeungeuhAlamat:Tumpok Teungeuh 

Agama:IslamAgama: Islam

Suku/ bangsa: Aceh Suku/bangsa: Aceh

Pendidikan:SMAPendidikan: SMA

b. Anamnesa (Data obyektif)
1) Keluhan Utama: Ibu mengatakan merasa hamil 3 bulan, peradarahan sejak seminggu yang lalu, nyeri perut bagian bawah dan keluar darah bercak pada celana dalam.
2) Riwayat Mentsruasi
a) Menarche:Ibu mengatakan haid pertama 12 tahun.
b) Siklus:Ibu mengatakan siklus haidnya 28 hari
c) Lamanya:Ibu mengatakan lama haidnya 8 hari
d) Banyaknya:Ibu mengatakan sehari ganti pembalut 3-4 kali.
e) Teratur/tidak:Ibu mengatakan haidnya teratur.
f) Dismenore:Ibu mengatakan tidak nyeri perut saat haid.
3) Riwayat Kehamilan Sekarang
a) GIIIPIIA0
b) HPHT : 26-02-2018
c) TTP : 5-11-2018
d) Ibu mengatakan ini kehamilan ketiga dan tidak pernah mengalami keguguran.
e) Ibu mengatakan belum merasakan ada gerakan janin.
f) Ibu mengatakan tidak pernah bekerja berat.

Kehamilan

Persalinan

Nifas

Anak ke

Gravida

Tahun

Lahir

JK

BBL

(gr)

Tempat

persalinan

Penolong

Kondisi

I

2000

P

2.800

BPS

Bidan

Hidup

II

2006

L

3.200

BPS

Bidan

Hidup

III

2018

Kehamilan Sekarang (Abortus)

 

4) Riwayat Penyakit Sistemik yang pernah diderita
a) Jantung:Tidak
b) Ginjal:Tidak
c) Asma/TBC:Tidak
d) Hepatitis B:Tidak
e) DM:Tidak
f) Hipertensi:Tidak
g) Epilepsi:Tidak
h) HIV/AIDS:Tidak
i) Lain-lain:Tidak
5) Riwayat Penyakit Keluarga
a) Jantung:Tidak
b) Hipertensi:Tidak
c) DM:Tidak
d) Asma:Tidak
e) Lain-lain:Tidak
c. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum : Baik                                    
2) Kesadaran :Komposmentis           
3) TTV : 
a) Tekanan darah:120/80 mmhg.
b) Nadi:78 x/m.
c) Suhu:360C.
d) Pernafasan:22 x/m.
4) Kepala
a) Kulit kepala:Bersih.
b) Distribusi Rambut:Berwarna hitam dan tidak rontok.
5) Mata
a) Oedema:Tidak ada
b) Konjungtiva:Merah muda
c) Sclera:Ikterik
6) Wajah
a) Oedema:Tidak ada
b) Cloasma Gravidarum:Tidak ada
7) Hidung
a) Bentuk:Simetris
b) Folip:Tidak ada
c) Pengeluaran Cairan: Jernih
8) Mulut
a) Lidah:Bersih
b) Stomatitis:Tidak ada
c) Gigi:Bersih
d) Epulis pada gusi:Tidak ada
e) Tonsil :Tidak ada
9) Telinga
a. Serumen:Ada
b. Pengeluaran cairan:Jernih
10) Leher
a) Luka Operasi:Tidak ada
b) Kelenjar Thyroid:Tidak ada
c) Kelenjar limfe:Tidak ada
11) Dada
a) Mammae:Normal
b) Areola Mammae:Bersih dan berwarna kehitaman
c) Papilla Mammae:Menonjol
d) Benjolan/Tumor:Tidak ada
e) Pengeluaran dari putting susu:Tidak ada
12) Abdomen
a) Pembesaran:Normal
b) Linea/striase:Tidak ada
c) Bekas luka operasi:Tidak ada
d) Gerakan Janin:Belum terasa
d. Pemeriksaan Penunjang
1) 
       Radiologi
2) 
      Laboratorium

Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

Hematologi

Hematologi Rutin

Hemoglobin

11,4

g/dl

12-16

Eritrosit

3,76

Juta/mm3

3,8-4,8

Leukosit

8,80

Ribu/mm3

4,0-11,0

Hematokrit

34,9

%

37-47

Index Eritrosit

MCV

92,7

Fl

79-99

MCH

30,3

Pg

27-32

MCHC

32,7

%

33-37

RDC-CV

12,0

%

11,5-14,5

Trombosit

231

Ribu/mm3

150-450

Golongan Darah        O

 

3) 
      Lain-lain

 

2. Interprestasi Data

           aDiagnosa Kebidanan

Ny.N umur 40 Tahun GIIIPIIAI usia kehamilan 12 minggu dengan abortus Inkomplit

Data subjektif 

Ibu mengatakan keluar darah sejak seminggu yang lalu

Data Objektif

1) Keadaan Umum:baik
2) Kesadaran:KomposMentis
3) TTV : 
a) Tekanan darah:120/80 mmhg.
b) Nadi:78 x/m.
c) Suhu:360C.
d) Pernafasan:22 x/m.
a. Masalah

Ibu mengatakan cemas karena ada darah yang keluar dari jalan lahir dan perutnya terasa nyeri.

b. Kebutuhan 

Memberikan dukungan moril dan memberitahu tentang abortus inkomplit

3.Identifikasi Diagnosa dan Masalah  Potensial

Potensial terjadi perdarahan

4. Identifikasi kebutuhan yang memerlukan tindakan segera

Kolaborasi dengan dokter obsgyn untuk tindakan curettage

 

5. Rencana Tindakan
a. Beritahukan kepada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan.
b. Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang keadaan dan tindakan yang akan dilakukan.
c. Berikan motivasi dan dukungan moril kepada ibu.
d. Lakukan informed consent untuk melakukan curettage.
e. Observasi keadaan umum dan vital sign.
f. Observasi perdarahan.
6. Pelaksanaan Asuhan Kebidanan
a. Memberitahukan kepada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan.
b. Menjelaskan pada ibu dan keluarga tentang keadaan dan tindakan yang akan dilakukan.
c. Memberikan motivasi dan dukungan moril kepada ibu.
d. Melakukan informed consent untuk melakukan curettage.
e. Mengobservasi keadaan umum dan vital sign.
f. Mengobservasi perdarahan.
1)  
7. Evaluasi
a. Ibu dan keluarga sudah mengetahui hasil pemeriksaan.
b. Ibu dan keluarga sudah mengetahui keadaan ibu dan mengerti bahwa akan dilakukan tindakan curettage.
c. Motivasi dan dukungan moril pada ibu telah dilakukan dan ibu menerima keadaan yang dialaminya.
d. Keluarga sudah menandatangani informed consent untuk melakukan curettage.
e. Keadaan Umum:baik

Kesadaran:KomposMentis

TTV :

1) Tekanan darah:120/80 mmhg.
2) Nadi:78 x/m.
3) Suhu:360C.
4) Pernafasan:22 x/m.
f. Jumlah perdarahan ±50 cc.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B. Pendokumentasian Kebidanan (SOAP)

Catatan perkembangan

Hari/tgl/jam

Catatan Perkembangan

Rabu 23 Mei 2018 jam 10.00

Pasien dari ruang nifas tiba diruang OK 

S :1. Ibu mengatakan merasa nyeri dibagian bawah perut .

  2.Ibu mengatakan sudah puasa mulai jam 06.00 pagi.

   3. Ibu mengatakan masih mengeluarkan darah.

   4. Ibu mengatakan haid pertama hari terakhir tanggal

        26 Februari 2018

O : a.Keadaan Umum:baik

     b.Kesadaran:KomposMentis

     c.TTV : 

1. Tekanan darah:120/80 mmhg.
2. Nadi:78 x/m.
3. Suhu:360C.
4. Pernafasan:22 x/m.
Nyeri disaat ditekan pada daerah simpisis 
Daerah genetalia dan anus tampak kotor dengan sisa darah 

A :Ibu GIIIPIIAI usia kehamilan 12 minggu dengan abortus inkomplit pre curretage

P  :          

a. Membina hubungan baik dengan ibu agar ibu tidak merasa takut dan cemas .
b. Memberikan motivasi dan semangat kepada ibu dengan cara berkomunikasi dengan baik,dan memberiperhatian kepada ibu.
c. Mengobservasi Perdarahan dengan cara melihat darah yang telah keluar sebanyak kurang lebih 500 cc
d. Memberikan latihan nafas untuk memperingan keluhan ,dengan cara tarik nafas dalam 4-5 kali .
e. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan tanda vital nya dalam batas normal.

f. Membantu perawat Melakukan kolaborasi dengan dokter anastesi untuk  segera dilakukan anastesi

 

Rabu 23 Mei 2018 10.20

Pasien dari ruang persiapan pasien dibawa ke kamar operasi 

S: 1.Ibu mengatakan perutnya terasa mules.

   2.Ibu mengatakan kepalanya sedikit pusing

O :a.  Keadaan Umum:Sedang

   b. Kesadaran:Kompos Mentis

   c. TTV 

      1) Tekanan Darah :110/80 mmHg

      2) Nadi                :86x/i

      2) Respirasi:22x/i

      3) Temp (Suhu):36 0C

 

A :Ibu GIIIPIIAI Usia kehamilan 12 minggu dengan abortus inkomplit.

P  :  

a. Mempersiapkan alat-alat untuk tindakan curettase,cairan infuse,perlak,selimut,obat anastesi ,larutan antiseptic,speculum sim 2 buah,cuna tampon 1 buah,oval klem 2 buah,tenakulum 1 buah,soundge uterus 1 buah,sendok kuret 1 set dan abortus tang 1 buah.
b. Mengatur posisi ibu dengan posisi litotomi
c. Mengobservasi keadaan umum dan tanda-tanda vitalibu di monitor.
d. Mengobservasi Perdarahan.
e. Memantau infus
f. Membantu perawat Melakukan anastesi secara bolus
g. Pada jam 10;25 dokter melakukan tindakan kurek pada Ny,N .Tujuan dilakukan kuretase untuk mengeluarkan sisa sisa jaringan yang masih berada didalam uterus .

Rabu 23 mei 2018 Pukul 11.35 wib

Pasien dari kamar operasi dibawa ke rung pemulihan 

S  : 1.Ibu mengatakan perutnya mules.

O :a.  Keadaan Umum:Baik

    b. Kesadaran:Kompos Mentis

    c. TTV 

      1) Tekanan darah :100/70 mmHg.

      2) Respirasi:20x/menit

     3) Nadi                :72 x/menit  

      3) Temp (Suhu):36,5 0C

A : Ibu GIIIPIIAI usia kehamilan 12 minggu post curettage abortus inkomplit.

P  :        

a. Mengkaji tingkat kesadaran pada pasien.
b. Mengkaji suhu tubuh,frekuensi,nadi ,respirasi dan tekanan darah melalui monitor
c. Mempertahankan eliminasi dengan cara memantau asupan dan output 
d. Mengatur posisi yang tepat pada pasien 
e. Membina hubungan baik dengan ibu.
f. Memberitahu kepada ibu dan keluarga bahwa tindakan kuret sudah selesai
g. Memberitahu ibu tanda tanda vital dalam batas normal .
h. Memberika oksigen kepada ibu yaitu 2 liter
i. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat
j. Membereskan ibu untuk dibawa ke ruang rawat dan ibu sudah di bawa keruang rawat pukul 12;56 dengan kondisi sadar dan infus tetap terpasang.

BAB IV

PEMBAHASAN

 

Setelah kami melakukan pengkajian anamnese  kami mendapatkan  kasus tentang Abostus ingkomplit   pada Ny.N G111P11AI Usia kehamilan 12 minggu dengan Abostus ingkomplit di ruang OK Rumah Sakit Umum Cut Meutia

Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien meliputi data subjektif, objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisis klien yang sebenarnya dan valid (Salmah, 2006).

Pada anamnesa ibu mengatakan selama kehamilan sering mengalami mual muntah dan pada tanggal 21 Mei 2018 ibu mengeluarkan flek-flek darah kecokelatan dari jalan lahir. Pada pemeriksaan terdapat tanda-tanda kehamilan abortus inkomplit yaitu ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan, uterus terasa lembek, tidak teraba bagian-bagian janin dan tidak terdengar djj. 

Pada kasus abortus inkomplit tindakan segera adalah kolaborasi dengan dokter obgyn untuk pemberian terapi dan tindakan curetase (Manuaba, 2009).

Rencana asuhan kebidanan yang diberikan kepada ibu hamil dengan abortus inkomplit  antara lain Beritahukan kepada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan : 

a) Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang keadaan dan tindakan yang akan dilakukan. 
b) Berikan motivasi dan dukungan moril kepada ibu.
c) Lakukan informed consent untuk melakukan curettage.
d) Observasi keadaan umum dan vital sign.
e) Observasi perdarahan.
f) Kolaborasi dengan dokter spesialis obgyn untuk lakukan tindakan.
g) Sedangkan pada kasus Abortus inkomplit  tindakan untuk pemberian terapi
h) Siapkan alat-alat untuk tindakan curettage

           

          BAB lV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah penulis melaksanakan obsevasi dalam pemberian asuhan kebidanan yang berjudul Asuhan kebidanan pada ibu hamil Ny.N G111P11AIUsia kehamilan 12 minggu dengan Abortus inkomplit  dengan menggunakan manajemen 7 langkah varney ,Penulis menyimpulkan bahwa 

1. Ny.N G111P11AI dengan abortus inkomplit 

 2. Penanganan abortus inkomplit :

a. Jika perdarahant tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskulera taum iso prostol 400 mg per oral.

b. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi hasil konsepsi dengan aspirasi vakum manual .

3. Pasien dirawat 2 hari diruang nifas sebelum dilakukan curretage

4.Setelah melakukan curettage ,biasanya tunggu tiga bulan untuk 

    hamil kembali agar dinding rahimnya sembuh dulu .

 

B. Saran 

1. Bagi Penulis

Diharapkan  agar dapat meningkatkan pengetahuan peneliti tentang abortus inkomplit serta menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah.

2. Bagi Institusi

Diharapkan agar dapat memperbanyak bahan pustaka tentang pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu dengan abortus inkomplit sesuaidengan perkembangan teori-teori yang ada.

DAFTAR  PUSTAKA

Sulistyawati, A. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan, Jakarta:

Salemba Medika

Ai Yeyeh Rukiyah.2010. Asuhan kebidanan 4 Patologi. Jakarta: Tim

Prawiroharjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. YBP-SP : Jakarta.

Depkes RI, 2010, Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA),  Jakarta: Departemen Kesehatan.

Kemenkes RI, Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014, Jakarta : Kemenkes RI, 2017.

Riskesdes,2013.

 

 

 

 

 

 

 

 

24