BAB
PENDAHULUAN
Berdasarkan survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012-2013, angka kematian ibu (yang berkaitan dengan kehamilan,persalinan dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan Negara-negara tetangga.
Yang menjadi sebab utama kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan (27%), pre-eklampsia atau eklampsia (23%), kemudian terinfeksi (11%), abortus (15%), komplikasi puerperium (5%), emboli onstetrik (5%), partus lama (5%) dan lain-lain (11%) (Riskesdas, 2013).
Perdarahan merupakan penyebab kematian ibu terbanyak. Perdarahan dapat terjadi pada setiap usia kehamilan, dan pada kehamilan muda sering dikaitkan dengan kejadian abortus (Wiknjosastro, 2010).
Diwilayah Asia Tenggara, World Health Organization (WHO) memperkirakan 4,2 juta abortus dilakukan setiap tahunnya diantara 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia. Resiko kematian akibat abortus tidak aman di wilayah Asia Tenggara diperkirakan antara 1 sampai 250, Negara maju hanya satu dari 3700. Angka tersebut memberikan gambaran bahwa masalah abortus di Indonesia masih cukup tinggi (Lusa, 2012).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho, 2010). Macam abortus ada 4 yaitu abortus spontan, abortus infeksiosa, Missed abortion dan abortus habitualis. Abortus spontan sendiri meliputi abortus imminens, abortus insipiens, abortus inkomplit dan abortus komplit (Wiknjosastro, 2010).
Abortus inkomplit ialah pengeluaran sebaguan hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Terjadi ketika placenta tidak dikeluarkan bersama janin pada saat terjadi aborsi (Varney, 2007). Komplikasi abortus jika tidak tertangani dapat terjadi perdarahan , perforasi, infeksi dan syok. Bila terjadi perdarahan yang hebat akibat abortus inkomplit dianjurkan segera mengeluarkan sisa hasil konsepsi secara manual agar jaringan yang mengganjal terjadinya kontraksi uterus segera dikeluarkan. Kontraksi uterus dapat berlangsung baik dan perdarahan bisa berhenti.Selanjutnya dilakukan tindakan kuretase.
Di rumah sakit umum Cut Mutia mulai bulan maret sampai dengan bulan mei jumlah kasus abortus sebanyak 39 orang.(data rekam medic ruang ok)
Agar mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan Pada Ny.N dengan Abortus Inkomplit GIII PII AI usia kehamilan 12 minggu di Ruang oprasi kamar OK Rumah Sakit Umum Cut Meutia.
Dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh serta mendapatkan pengalaman dalam melaksanakan asuhan kebidanan secara langsung pada ibu sehingga dapat digunakan berkas penulis didalam melaksanakan tugas sebagai bidan.
Sebagai tambahan kepustakaan dan perbandingan asuhan kebidanan pada ibu dengan abortus.
Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan dalam mengambil langkah-langkah kebijaksanaan dalam rangka meningkatkan pelayanan pada ibu dengan abortus.
BAB II
TINJAUN PUSTAKA
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implementasi (Wiknjosastro, 2016).
Menurut Wulanda (2011) Kehamilan merupakan proses yang alamiah.Perubahan-perubahan yang terjadi pada wanita selama kehamilan normal adalah bersifat fisiologis bukan patologis. Kehamilan juga merupakan proses alamiah untuk menjaga kelangsuangan peradaban manusia. Kehamilan baru bisa terjadi jika seorang wanita sudah mengalami pubertas yang ditandai dengan terjadinya menstruasi. Banyak hal dan banyak organ yang terlibat selama proses kehamilan.
Sedangkan menurut Manuaba (2012) Proses kehamilan merupakan mata rantai yang bersinambung dan terdiri dari : Ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implementasi) pada uterus, pembentukan placenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm.
Menurut Wiknjosastri (2010) kehamila dibagi menjadi 3 triwulan yaitu:
Kehamilan dibagi menjadi 2 yaitu:
Merupakan masa kehamilan dimulai hasil dari konsepsi sampai lahirnya janin tanpa adanya komplikasi maupun kelainan yang berhubungan langsung dengan kehamilan. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir.
Menurut Suparyanto (2011), patologi kehamilan adalah penyulit atau komplikasi yang menyertai ibu saat hamil. Komplikasi yang berhubungan dalam kehamilan yaitu:
Abortus adalam ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho, 2010).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (Wiknjosastro, 2010).
Adalah terminasi kehamilan sebelum periode viabilitas janin atau sebelum gestasi minggu ke 20 atau berat badan 500 gram (Varney, 2007). Abortus spontan dibagi menjadi:
Adalah perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan (Syaifuddin, 2006).
Adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi servik uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus (Varney, 2007).
Adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Terjadi ketika placenta tidak dikeluarkan bersama janin pada saat terjadi aborsi (Varney, 2007).
Adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan dari kavum uteri (Saifuddin, 2006).
Adalah abortus yang disertai komplikasi infeksi. Adanya penyebaran kuman atau toksin kedalam sirkulasi dan kavum peritoneum dapat menimbulkan septicemia, sepsis atau peritonitis. Atau disebut juga abortus yang disertai infeksi pada genetalia sedang (Wiknjosastro, 2010).
Perdarahan pada kehamilan muda disertau dengan retensi hasil konsepsi yang telah mati hingga 8 minggu atau lebih. Kematian janin berusia 20 minggu, tetapi janin mati tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih (Wiknjosastro, 2010).
Adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut (Manuaba, 2010).
Abortus inkomplit adalah dimana sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal didalam uterus dimana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum, peradarahannya masih terjadi dan jumlahnya bisa banyak atau sedikit tergantung pada jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian placenta site masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus (Saifuddin, 2010).
Penyebab keguguran sebagian tidak diketahui secara pasti tetapi terdapat beberapa faktor sebagai berikut:
Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperrentrofleksi.
Pada abortus ini septic virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke miometrium, tuba, parametrium dan peritoneum. Apabila infeksi menyebar lebih jauh, terjadilah peritonitis umum atau sepsis dan kemungkinan diikuti oleh syok.
Pada abortus biasanya terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (Sarwono, 2008).
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing diuterus.Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, vili korialis belum menembus desidua secara mendalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8-14 minggu, vili korialis sudah menembus lebih dalam hingga placenta tidak dapat dilepaskan secara sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan.
Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada placenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong amnion atau tampak didalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum).
Tentunya, setiap penyakit dan juga gangguan pada tubuh harus ditangani dengan cara yang tepat. Cara penanganan pada kasus abortus inkomplit yaitu memastikan bahwa rahim sudah dalam kondisi yang cukup bersih dari jaringan kehamilan yang masih tersisa dan juga menempel pada rahim. Hal ini dianjurkan untuk mencegah komplikasi dan juga perdarahan yang berat.
Pada umumnya dokter akan memantau terlebih dahulu selama beberapa hari sampai semua jaringan kehamilan keluar dan luruh secara alami. Jika jaringan kehamilan tidak keluar, biasanya dokter akan memberikan obatb perangsang rahim untuk mendorong sisa kehamilan agar keluar . Cara ini tentunya dilakukan bagi seorang wanita yang tidak memiliki kontradiksi obat dan tidak mengalami komplikasi.
Tentunya cara penanganan tersebut sudah selayaknya diberikan oleh tenaga kesehatan, kemungkinan anda akan disaranankan untuk menjalankan rawat inap di Rumah Sakit karena kemungkinan besar anda akan mengalami perdarahan yang sangat banyak serta efek samping seperti mual, muntah, lelah, sakit kepala dan juga diare.
Cara terakhir yang akan dilakukan oleh dokter tidak lain adalah tindakan kuretasi. Tindakan ini dilakukan jika anda harus mendapatkan penanganan dengan segera yang nantinya akan mengancam jiwa.
Varney 1997 menjelaskan bahwa proses manajemen merupakan proses pemecahan masalah yang ditemukan oleh perawat dan bidan pada awal tahun 1970-an. Proses ini memperkenalkan sebuah metode dengan perorganisasian pemikiran dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis dan menguntungkan baik bagi klien maupun bagi tenaga kesehatan. Proses ini menguraikan bagaimana perilaku yang diharapkan dari pemberi asuhan. Proses manajemen ini bukan hanya terdiri dari pemikiran dan tindakan saja melainkan juga perilaku pda setiap langkah agar pelayanan comprehensive dan aman dapat tercapai.
Dengan demikian proses manajemen harus mengikuti urutan yang logis dan memberi pengertian yang menyatukan pengetahuan,hasil temuan, dan penelitian yang terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang berfokus pada manajemen klien.
Proses manajemen terdiri dari 7 (tujuh) langkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secara periodic. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang diaplikasikan dalam situasi apapun. Akan tetapi setiap langkah dapat diuraikan menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan bias berubah sesuai dengan kebutuhan klien.
Adapun langkah manajemen varney, yaitu:
Yaitu dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, meninjau catatan terbaru dan sebelumnya dan meninjau data laboratorium dan membandingkan dengan hasil studi.
Yaitu dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnose dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan sehingga ditemukan masalah atau diagnose yang spesifik.
Yaitu mengidentifikasi masalah dan diagnose potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnose yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati kilen bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnose atau masalah ini benar-benar terjadi.
Pada langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan yaitu bukan hanya asuhan kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan. Beberapa data yang dikumpulkan dapat menunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan segera, seperti konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.
Menurut Arief dan Kristiyanasari 2009,rencana tindakan yang dapat dilakukan pada Anak dengan Demam tifoid.
Dilakukan asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima secara efisien dan aman. Perencanaan ini bias dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya.
Dilakukan evaluasi keevektivan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar terpenuhi karena ada kemungkinan bahwa sebagian rencana telah efektif sedang sebagian belum efektif.
Metode pendokumentasian yang digunakan dalam asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan robekan jalan lahir menggunakan SOAP menurut Varney yaitu:
S : Subyektif
Subjektif menggambarkan pendokumentasian hanya pengumpulan data klien melalui anamnesa,dimana anamnesa ini akan menghasilkan jawaban dari pasien.
O : Obyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik pasien,hasil laboratorium yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung assessment,diagnose dan masalah serta kebutuhan.
A : Assessment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpestasi data subyektif dan obyektif dalam suatu identifikasi.
P : Planning
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi.
BAB III
TINJAUAN KASUS
Agar mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan Pada Ny.N dengan Abortus Inkomplit GIII PIIAI usia kehamilan 12 minggu di Ruang oprasi kamar OK Rumah Sakit Umum Cut Meutia.
Ruang :Ok
Tanggal Masuk:21 Mei 2018
No. RM :49 42 42
Nama:Ny.NNama : Tn. M
Umur:42 TahunUmur: 53 Tahun
Jenis kelamin:PerempuanJenis Kelamin: Laki laki
Alamat:Tumpok TeungeuhAlamat:Tumpok Teungeuh
Agama:IslamAgama: Islam
Suku/ bangsa: Aceh Suku/bangsa: Aceh
Pendidikan:SMAPendidikan: SMA
Kehamilan | Persalinan | Nifas | ||||
Anak ke Gravida | Tahun Lahir | JK | BBL (gr) | Tempat persalinan | Penolong | Kondisi |
I | 2000 | P | 2.800 | BPS | Bidan | Hidup |
II | 2006 | L | 3.200 | BPS | Bidan | Hidup |
III | 2018 | Kehamilan Sekarang (Abortus) | ||||
Pemeriksaan | Hasil | Satuan | Nilai Rujukan |
Hematologi Hematologi Rutin | |||
Hemoglobin | 11,4 | g/dl | 12-16 |
Eritrosit | 3,76 | Juta/mm3 | 3,8-4,8 |
Leukosit | 8,80 | Ribu/mm3 | 4,0-11,0 |
Hematokrit | 34,9 | % | 37-47 |
Index Eritrosit | |||
MCV | 92,7 | Fl | 79-99 |
MCH | 30,3 | Pg | 27-32 |
MCHC | 32,7 | % | 33-37 |
RDC-CV | 12,0 | % | 11,5-14,5 |
Trombosit | 231 | Ribu/mm3 | 150-450 |
Golongan Darah O | |||
2. Interprestasi Data
a. Diagnosa Kebidanan
Ny.N umur 40 Tahun GIIIPIIAI usia kehamilan 12 minggu dengan abortus Inkomplit
Data subjektif
Ibu mengatakan keluar darah sejak seminggu yang lalu
Data Objektif
Ibu mengatakan cemas karena ada darah yang keluar dari jalan lahir dan perutnya terasa nyeri.
Memberikan dukungan moril dan memberitahu tentang abortus inkomplit
3.Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Potensial terjadi perdarahan
Kolaborasi dengan dokter obsgyn untuk tindakan curettage
Kesadaran:KomposMentis
TTV :
B. Pendokumentasian Kebidanan (SOAP)
Catatan perkembangan
Hari/tgl/jam | Catatan Perkembangan |
Rabu 23 Mei 2018 jam 10.00 | Pasien dari ruang nifas tiba diruang OK S :1. Ibu mengatakan merasa nyeri dibagian bawah perut . 2.Ibu mengatakan sudah puasa mulai jam 06.00 pagi. 3. Ibu mengatakan masih mengeluarkan darah. 4. Ibu mengatakan haid pertama hari terakhir tanggal 26 Februari 2018 O : a.Keadaan Umum:baik b.Kesadaran:KomposMentis c.TTV : 1. Tekanan darah:120/80 mmhg. 2. Nadi:78 x/m. 3. Suhu:360C. 4. Pernafasan:22 x/m. - Nyeri disaat ditekan pada daerah simpisis - Daerah genetalia dan anus tampak kotor dengan sisa darah A :Ibu GIIIPIIAI usia kehamilan 12 minggu dengan abortus inkomplit pre curretage P : a. Membina hubungan baik dengan ibu agar ibu tidak merasa takut dan cemas . b. Memberikan motivasi dan semangat kepada ibu dengan cara berkomunikasi dengan baik,dan memberiperhatian kepada ibu. c. Mengobservasi Perdarahan dengan cara melihat darah yang telah keluar sebanyak kurang lebih 500 cc d. Memberikan latihan nafas untuk memperingan keluhan ,dengan cara tarik nafas dalam 4-5 kali . e. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan tanda vital nya dalam batas normal. f. Membantu perawat Melakukan kolaborasi dengan dokter anastesi untuk segera dilakukan anastesi
|
Rabu 23 Mei 2018 10.20 | Pasien dari ruang persiapan pasien dibawa ke kamar operasi S: 1.Ibu mengatakan perutnya terasa mules. 2.Ibu mengatakan kepalanya sedikit pusing O :a. Keadaan Umum:Sedang b. Kesadaran:Kompos Mentis c. TTV 1) Tekanan Darah :110/80 mmHg 2) Nadi :86x/i 2) Respirasi:22x/i 3) Temp (Suhu):36 0C
A :Ibu GIIIPIIAI Usia kehamilan 12 minggu dengan abortus inkomplit. P : a. Mempersiapkan alat-alat untuk tindakan curettase,cairan infuse,perlak,selimut,obat anastesi ,larutan antiseptic,speculum sim 2 buah,cuna tampon 1 buah,oval klem 2 buah,tenakulum 1 buah,soundge uterus 1 buah,sendok kuret 1 set dan abortus tang 1 buah. b. Mengatur posisi ibu dengan posisi litotomi c. Mengobservasi keadaan umum dan tanda-tanda vitalibu di monitor. d. Mengobservasi Perdarahan. e. Memantau infus f. Membantu perawat Melakukan anastesi secara bolus g. Pada jam 10;25 dokter melakukan tindakan kurek pada Ny,N .Tujuan dilakukan kuretase untuk mengeluarkan sisa sisa jaringan yang masih berada didalam uterus . |
Rabu 23 mei 2018 Pukul 11.35 wib | Pasien dari kamar operasi dibawa ke rung pemulihan S : 1.Ibu mengatakan perutnya mules. O :a. Keadaan Umum:Baik b. Kesadaran:Kompos Mentis c. TTV 1) Tekanan darah :100/70 mmHg. 2) Respirasi:20x/menit 3) Nadi :72 x/menit 3) Temp (Suhu):36,5 0C A : Ibu GIIIPIIAI usia kehamilan 12 minggu post curettage abortus inkomplit. P : a. Mengkaji tingkat kesadaran pada pasien. b. Mengkaji suhu tubuh,frekuensi,nadi ,respirasi dan tekanan darah melalui monitor c. Mempertahankan eliminasi dengan cara memantau asupan dan output d. Mengatur posisi yang tepat pada pasien e. Membina hubungan baik dengan ibu. f. Memberitahu kepada ibu dan keluarga bahwa tindakan kuret sudah selesai g. Memberitahu ibu tanda tanda vital dalam batas normal . h. Memberika oksigen kepada ibu yaitu 2 liter i. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat j. Membereskan ibu untuk dibawa ke ruang rawat dan ibu sudah di bawa keruang rawat pukul 12;56 dengan kondisi sadar dan infus tetap terpasang. |
BAB IV
PEMBAHASAN
Setelah kami melakukan pengkajian anamnese kami mendapatkan kasus tentang Abostus ingkomplit pada Ny.N G111P11AI Usia kehamilan 12 minggu dengan Abostus ingkomplit di ruang OK Rumah Sakit Umum Cut Meutia
Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien meliputi data subjektif, objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisis klien yang sebenarnya dan valid (Salmah, 2006).
Pada anamnesa ibu mengatakan selama kehamilan sering mengalami mual muntah dan pada tanggal 21 Mei 2018 ibu mengeluarkan flek-flek darah kecokelatan dari jalan lahir. Pada pemeriksaan terdapat tanda-tanda kehamilan abortus inkomplit yaitu ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan, uterus terasa lembek, tidak teraba bagian-bagian janin dan tidak terdengar djj.
Pada kasus abortus inkomplit tindakan segera adalah kolaborasi dengan dokter obgyn untuk pemberian terapi dan tindakan curetase (Manuaba, 2009).
Rencana asuhan kebidanan yang diberikan kepada ibu hamil dengan abortus inkomplit antara lain Beritahukan kepada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan :
BAB lV
PENUTUP
Setelah penulis melaksanakan obsevasi dalam pemberian asuhan kebidanan yang berjudul Asuhan kebidanan pada ibu hamil Ny.N G111P11AIUsia kehamilan 12 minggu dengan Abortus inkomplit dengan menggunakan manajemen 7 langkah varney ,Penulis menyimpulkan bahwa
1. Ny.N G111P11AI dengan abortus inkomplit
2. Penanganan abortus inkomplit :
b. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi hasil konsepsi dengan aspirasi vakum manual .
3. Pasien dirawat 2 hari diruang nifas sebelum dilakukan curretage
4.Setelah melakukan curettage ,biasanya tunggu tiga bulan untuk
hamil kembali agar dinding rahimnya sembuh dulu .
B. Saran
Diharapkan agar dapat meningkatkan pengetahuan peneliti tentang abortus inkomplit serta menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah.
2. Bagi Institusi
Diharapkan agar dapat memperbanyak bahan pustaka tentang pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu dengan abortus inkomplit sesuaidengan perkembangan teori-teori yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Sulistyawati, A. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan, Jakarta:
Salemba Medika
Ai Yeyeh Rukiyah.2010. Asuhan kebidanan 4 Patologi. Jakarta: Tim
Prawiroharjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. YBP-SP : Jakarta.
Depkes RI, 2010, Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA), Jakarta: Departemen Kesehatan.
Kemenkes RI, Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014, Jakarta : Kemenkes RI, 2017.
Riskesdes,2013.

0 Comments