Review Jurnal
KORELASI AGAMA, FILSAFAT DAN ILMU
Public health: Agama,
Filsafat, Ilmu
a. Tema jurnal
Mencari
kebenaran adalah salah satunya yang dilakukan seseorang dalam hidupnya. Standar
kebenaran tergantung pada media, yang dipekerjakan oleh manusia. Ada media yang
digunakan oleh seorang pria untuk mencari kebenaran. Mereka; agama, filsafat,
dan ilmu pengetahuan. Kebenaran yang diberikan oleh agama cenderung
mengandalkan nilai-nilai kebenaran yang dirujuk kepada Tuhan. Kebenaran yang
dihasilkan oleh filsafat cenderung memberikan pemikiran reflektif yang dalam,
yang kurang berhubungan dengan Tuhan. Sedangkan kebenaran yang diberikan oleh
sains terdiri dari nilai pengetahuan yang tidak konsisten dan berubah mengikuti
perkembangan manusia.
b. Isi Jurnal
Ada tiga hal
yang menjadi alat bagi manusia untuk mencari kebenaran, yaitu filsafat, ilmu
dan agama. Walaupun tujuan ketiga aspek ini untuk mencari kebenaran, namun
ketiganya tidak dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang sama (sinonim). Secara
umum, filsafat dianggap sesuatu yang sangat bebas karena ia berpikir tanpa
batas. Sedangkan agama, lebih mengedepankan wahyu/ilham dari zat yang dianggap
Tuhan. Segala sesuatu yang berasal dari Tuhan, dalam perspektif agama adalah
sebuah kebenaran yang tidak dapat ditolak. Sedangkan ilmu adalah sebuah
perangkat metode untuk mencari kebenaran. Antara filsafat dan Ilmu, sama-sama
tidak memiliki tokoh sentral sebagaimana agama yang mensentralkan Tuhan. Dengan
kata lain, dapat dikatakan setiap masalah yang dihadapi manusia, maka mereka
akan menggunakan tiga macam alat untuk mencapai penyelesaiannya. Sebagian ahli
agama menjadikan filsafat dan ilmu sebagai alat untuk mempertajam pemahaman
terhadap agama, sehingga kebenaran terhadap agama semakin kuat. Sedangkan ahli
filsafat melihat agama dengan pemikiran yang mendalam, sehingga seorang filosof
mendapat kebenaran yang paling hakiki. Sedangkan ilmu pengetahuan, sebenarnya
sebuah alat yang sangat sederhana, karena ia dapat digunakan oleh semua orang
dalam kapasitas dan kemampuan masing-masing manusia.
c. Kelebihan Jurnal
I.
Dalam
jurnal ini menjelaskan tentang sebuah konsep baru yaitu Filsafat tidak mengenal
pembangunan yang tenang dan merata, yang tadinya merupakan persoalan. Filsafat
pasti mengenal sesuatu seperti per-kembangan, dan mempunyai kontinyuitasnya
sendiri. Jika tidak demikian halnya, bagaimana orang dapat berbicara tentang suatu
“sejarah filsafat”? akan tetapi ini semua secara fundamental berbeda dengan
pada ilmu-ilmu pengetahuan yang lain.
II.
Dalam
jurnal ini menjelaskan Filsafat kurang membumi sedangkan ilmu lebih bermanfaat
dan lebih praktis. Padahal filsafat menghendaki pengetahuan yang komprehensif
yang luas, umum, dan universal dan hal ini tidak dapat diperoleh dalam ilmu.
Sehingga filsafat dapat ditempatkan pada posisi dimana pemikiran manusia tidak
mungkin dapat dijangkau oleh ilmu.
III.
Dalam jurnal ini dijelaskan Dalam konsep ini, agama
identik dengan pemahaman bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam segala hal.
Karena itu agama merupakan sebagai central dari segala sesuatu tersebut untuk
dikembalikan dan diserahkan segala urusan. Kadar penyerahan segala urusan ini,
memiliki tingkat yang berbeda bagi agama tertentu dan aliran tertentu.
d. Kekurangan Jurnal
I.
Dalam
jurnal ini Filsafat, sebagai sebuah metode berpikir yang sistematis merupakan
salah satu pendekatan tersendiri dalam memahami kebenaran. Dalam konteks
keagama-an, pemikiran tentang berbagai hal dan urusan. Karenanya dalam filsafat
juga dibicarakan bagaimana keberadaan Tuhan, dan juga persoalan kenabian,
kedudukan dan fungsi akal dan wahyu, penciptaan manusia serta ibadah yang
dilakukan oleh manusia.
e. Discussion
I.
Perlunya
penelitian mengenai evaluasi Penyelidikan
terhadap keilmuan meliputi kegiatan filsafat dalam dunia Islam.
II.
Kebijakan
dalam Dalam konsep ini, agama identik dengan pemahaman bahwa manusia memiliki
keterbatasan dalam segala hal. Karena itu agama merupakan sebagai central dari
segala sesuatu tersebut untuk dikembalikan dan diserahkan segala urusan. Kadar
penyerahan segala urusan ini, memiliki tingkat yang berbeda bagi agama tertentu
dan aliran tertentu.
Summary
journal
FOR DEBATE : KORELASI
AGAMA, FILSAFAT DAN ILMU
Sepintas, antara ilmu dan
filsafat terlihat sama saja. Tetapi bila ditelaah lebih jauh, akan terlihat
perbedaan yang nyata antara keduanya. Namun demikian, tentu ada sisi-sisi
persamaan dan juga perbedaan-perbedaan. “Walaupun filsafat muncul sebagai salah
satu ilmu pengetahuan, akan tetapi ia mempunyai struktur tersendiri dan tidak
dapat begitu saja dianggap sebagai ilmu pengetahuan”.
Tentu saja sedikit banyak bagi
setiap ilmu pengetahuan berlaku, bahwa ilmu itu mempunyai struktur dan
karakteristik tersendiri. Studi tentang ilmu kedokteran adalah sesuatu yang
berbeda sekali dengan sejarah kesenian, dan ilmu pasti/matematika sesuatu yang
berlainan sekali dengan ilmu pendidikan. Akan tetapi untuk filsafat, hal yang
“tersendiri” ini berlaku dengan cara yang dasarnya lain. Ini menunjukkan bahwa
filsafat memiliki akar lebih dalam daripada ilmu pengetahuan. Bahkan, ada yang
mengatakan bahwa filsafat adalah dasar-dasar ilmu pengetahuan itu sendiri.
Dalam bahasa Inggris disebut
Science, dari bahasa Latin yang berasal dari kata Scientia (pengetahuan) atau
Scire (mengetahui). Sedangkan dalam bahasa Yunani adalah Episteme
(pengetahuan). Dalam kamus Bahasa Indonesia, ilmu adalah pengetahuan tentang
suatu bidang yang tersusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang
dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang itu.
Dalam Encyclopedia Americana,
ilmu adalah pengetahuan yang bersifat positif dan sistematis. Paul Freedman,
dalam The Principles of Scientific Research mendefinisikan ilmu sebagai: bentuk
aktifitas manusia yang dengan melakukannya umat manusia memperoleh suatu
pengetahuan dan senantiasa lebih lengkap dan cermat tentang alam di masa
lampau, sekarang dan kemudian hari, serta suatu kemampuan yang meningkat untuk
menyesuaikan dirinya dan mengubah lingkungannya serta mengubah sifat-sifatnya
sendiri.
S.Ornby mengartikan ilmu sebagai
susunan atau kumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian dan
percobaan dari fakta-fakta. Poincare, menyebutkan bahwa ilmu berisi
kaidah-kaidah dalam arti definisi yang tersembunyi. Tidak dapat dipungkiri
bahwa dalam proses untuk memperoleh suatu ilmu adalah dengan melalui pendekatan
filsafat.
Kata agama kadangkala
diidentikkan dengan kepercayaan, keyakinan dan sesuatu yang menjadi anutan.
Dalam konteks Islam, terdapat beberapa istilah yang merupakan padanan kata
agama yaitu: al-Din, al-Millah dan al-Syari’at.11 Ahmad Daudy menghubungkan
makna al-Din dengan kata al-Huda (petunjuk).12 Hal ini menunjukkan bahwa agama
merupakan seperangkat pedoman atau petunjuk bagi setiap penganutnya. Muhammad
Abdullah Darraz mendefinisikan agama (din) sebagai: “keyakinan terhadap
eksistensi (wujud) suatu dzat –atau beberapa dzat-ghaib yang maha tinggi, ia
memiliki perasaan dan kehendak, ia memiliki wewenang untuk mengurus dan
mengatur urusan yang berkenaan dengan nasib manusia. Keyakinan mengenai
ihwalnya akan memotivasi manusia untuk memuja
dzat itu dengan perasaan suka
maupun takut dalam bentuk ketundukan dan pengagungan”. Secara lebih ringkas, ia
mengatakan juga: bahwa agama adalah “keyakinan (keimanan) tentang suatu dzat
(Ilahiyah) yang pantas untuk menerima ketaatan dan ibadah (persembahan). Sedangkan
Daniel Djuned mendevinisikan agama sebagai: tuntutan dan tatanan ilahiyah yang
diturunkan Allah melalui seorang rasul untuk umat manusia yang berakal guna
kemaslahatannya di dunia dan akhirat. Fungsi agama salah satunya adalah sebagai
penyelamat akal.
Dari definisi di atas, dapat
dijelaskan bahwa pokok dan dasar dari agama adalah keyakinan sekelompok manusia
terhadap suatu zat (Tuhan). Keyakinan dapat dimaknai dengan pengakuan terhadap
eksistensi Tuhan yang memiliki sifat agung dan berkuasa secara mutlak tanpa ada
yang dapat membatasinya. Dari pengakuan tentang eksistensi Tuhan tersebut,
menimbulkan rasa takut, tunduk, patuh, sehingga manusia mengekpresikan pemujaan
(penyembahan) dalam berbagai bentuk sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan
oleh suatu agama.
Hubungan Filsafat dengan Ilmu,
Meskipun secara historis antara ilmu dan filsafat pernah merupakan suatu
kesatuan, namun dalam perkembangannya mengalami divergensi, dimana dominasi
ilmu lebih kuat mempengaruhi pemikiran manusia, kondisi ini mendorong pada
upaya untuk memposisikan ke duanya secara tepat sesuai dengan batas wilayahnya
masing-masing, bukan untuk mengisolasinya melainkan untuk lebih jernih melihat
hubungan keduanya dalam konteks lebih memahami khazanah intelektual manusia
Harold H. Titus mengakui
kesulitan untuk menyatakan secara tegas dan ringkas mengenai hubungan antara
ilmu dan filsafat, karena terdapat persamaan sekaligus perbedaan antara ilmu
dan filsafat, di samping di kalangan ilmuwan sendiri terdapat perbedaan
pandangan dalam hal sifat dan keterbatasan ilmu, demikian juga di kalangan
filsuf terdapat perbedaan pandangan dalam memberikan makna dan tugas filsafat.
Hubungan Filsafat dan Agama,
Sebagian ahli memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam memikirkan berbagai
hal yang mencakup alam, manusia bahkan Tuhan yang disembah oleh manusia. Dalam
konteks ini, terdapat hal-hal tertentu yang cenderung memiliki kesamaan antara
agama dan filsafat. Tidak mengherankan dalam khazanah Islam, dianggap seseorang
yang mampu dalam hal pemikiran melebihi manusia kebanyakan, dianggap sebagai
Nabi. Lalu, sebagian yang lain, karena kemampuan seorang Nabi terutama dalam
mengucapkan ungkapan-ungkapan bijaksana adakalanya juga dikatakan sebagai
filosof. Untuk itu, Logika yang ada dalam Islam memiliki corak tersendiri
dibandingkan logika Barat yang bebas nilai-nilai keagamaan.
Filsafat memasuki
lapangan-lapangan ilmu keislaman dan mempengaruhi pembatasan-pembatasannya.
Penyelidikan terhadap keilmuan meliputi kegiatan filsafat dalam dunia Islam.
Dengan demikian filsafat Islam secara khusus memisahkan diri sebagai ilmu yang
mandiri. Walaupun hasil juga ditemukan ke-identikan dengan pemandangan orang
Yunani (Aristoteles) dalam masalah teori tentang pembagian filsafat oleh
filosof-filosof Islam. Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa antara
filsafat dengan ilmu serta dengan agama, memiliki hubungan yang sangat erat.
Hal ini didasarkan pada tujuan ketiganya, yaitu mencari kebenaran. Namun
demikian, ketiga aspek dimaksud secara horizontal saling berhubungan, namun
secara vertikal, menurut penulis, hanya agama saja yang memilikinya. Agama
selain memiliki hubungan horizontal dengan filsafat dan ilmu, juga memiliki
hubungan vertikal dengan Tuhan sebagai sembahan manusia itu sendiri.

0 Comments