BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Menuntut
ilmu adalah kewajiban setiap manusia yang telah dimulai sejak dilahirkan hingga
ke liang lahat. Oleh sebab itu, setiap manusia wajib untuk belajar baik melalui
jalur pendidikan formal, informal maupun non formal, karena belajar merupakan
kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tanpa belajar maka tidak ada ilmu
pengetahuan yang dapat diperoleh. Semakin perlunya manusia akan ilmu
pengetahuan, maka perkembangan sangat pesat dari waktu ke waktu. Kemajuan suatu
bangsa diukur dari tingkat kemajuan pengetahuan dan teknologi karena semakin
maju ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa semakin maju taraf hidup dan
kesejahteraan penduduknya.
Islam
diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk itu, maka diutuslah Rasulullah
SAW untuk memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang
mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu.
Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan
berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT.
Dengan
pendidikan yang baik, tentu akhlak manusia pun juga akan lebih baik. Tapi
kenyataan dalam hidup ini, banyak orang yang menggunakan akal dan
kepintaraannya untuk maksiat. Banyak orang yang pintar dan berpendidikan justru
akhlaknya lebih buruk dibanding dengan orang yang tak pernah sekolah. Hal itu
terjadi karena ketidakseimbangannya ilmu dunia dan akhirat. Ilmu pengetahuan
dunia rasanya kurang kalau belum dilengkapi dengan ilmu agama atau akhirat.
Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam diwajibkan untuk menuntuk ilmu baik
ilmu dunia maupun ilmu akhirat.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun
rumusan Masalah dalam tugas ini sebagai berikut :
1. apa yang dimaksud dengan Penghargaan
terhadap ilmu ?
2. Yang dimananya perintah menuntut
ilmu ?
3. Metodel kewajiban dalam menutut ilmu
?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penghargaan Terhadap Ilmu
Ilmu berasal dari kata علم- يعلم- علما yang
artinya mengetahui, lawan dari kata جهل yang
artinya bodoh.
Ilmu pengetahuan adalah terjemahan dari
kata bahasa Inggris, Science, yang berarti pengetahuan. Kata science itu
sendiri berasal dari bahasa Yunani Scientia yang berarti pengetahuan. Namun
pengertian yang umum digunakan ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan
manusia yang dikumpulkan melalui proses pengkajian dan dapat diterima oleh
rasio.
Imam Raghib al- Ashfahani dalm
kitabnya, Mufradat Al –Qur’an, berkata, “ ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai
dengan hakikatnya. Ia
terbagi dua: pertama, mengetahi inti sesuatu itu (oleh ahli logika dinamakan
ahli tashawwur). Kedua, menghukum adanya sesuatu pada sesuatu yang
ada (oleh ahli ligika dinamakan tashdiq, maksudnya mengetahui hubungan sesuatu
dengan sesuatu).”
Az-Zubaidi berkata dalam kamus Tajul-‘Arus, “Mayoritas ahli
membedakan masing-masing term itu. Bagi mereka ilmu adalah yamg paling tinggi
karena ilmu itulah yang mereka perkenankan untuk dinisbatkan kepada allah swt.
Sementara, mereka tidak mengataknan: ‘Allah arif’ atau ‘Allah syair’.
Perbedaan-perbedaaan tersebut disebut dalahm karangan-karangan ahli basaha.
Al Manawi dalam kitab At-taufiq berkata
, “ ilmu adalah keyakinan kuat yang tetap sesuai dengan realita. Bisa juga
bersifat yang membuat perbedaan tanpa kritik. Atau, ilmu adalah tercapainya
bentuk sesuatu dalam akal.”
Islam adalah salah satu agama di
dunia yang sangat menghargai ilmu. Imu yang bersumber dari wahyu atau al-Qur’an
dan al-Sunnah yang dicapai melalui riset bayani atau ijtihad, yakni ilmu agam,
ilmu yang bersumber dari alam jagat yang dicapai melalui riset ijbari
(esperimen dan penalaran logis), ilmu yang bersumber dari fenomena sosial yang
dicapai melalui riset burhani (observasi, wawancara dan angket), ilmu yang
bersumber dari akal pikiran yang dicapai melalui riset jadali (logika), dan
ilmu yang dicapai dari Allah SWT melalui riset irfani (mujahadah dan muraqabah)
sangat dihargai oleh Islam. Dalam pandangan Islam semua ilmu ini hakikat-Nya
milik Allah SWT, karena wahyu, alam jagat raya, fenomena sosial, akal dan
intuisi yang menjadi sumber ilmu tersebut adalah merupakan anugerah Allah SWT
yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk dipelajari, dikaji, digali hikmahnya
dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup manusia. Orang yang memiliki
ilmu-ilmu tersebut dalam pandangan Islam disebut ulama. Pandangan Islam yang
tinggi tehadap ilmu tersebut dapat dilihat berdasarkan beberapa alasan sebagai
berikut.
Pertama, bahwa ayat yang pertama kali
diturunkan, yakni surat al-‘Alaq (96) ayat 1-5 antara lain berisi perintah
membaca dan menulis dalam arti seluas-luasnya. Membaca secara harfiah berarti
mengumpulkan informasi yang dapat dilakukan dengan cara membaca tulisan,
melalukan observasi, bertanya, melakukan, menalisa, menyimpulkan dan menguji
coba. Kegiatan ini dalam Kurikulum Tahun 2013 dikenal dengan istilah scientific
approches (pendekatan-pendekatan ilmiah). Sedangkan menulis dalam arti
menyimpan, merekem, memasukan dalam file, mendokumentasikan dan mengabadikan.
Dengan tulisan ini, maka segala sesuatu yang telah dihasilkan melalui kegiatan
membaca dapat diabadikan dan diteruskan kepada generasi berikutnya dalam bentuk
ilmu pengetahuan. Dan ilmu—ilmu tersebut kemudian diaplikasikan dalam bentuk
disain, modul dan manual, yang selanjutnya menghasilkan teknologi, kebudayaan
dan peradaban. Tanpa ilmu, kebudayaan dan peradaban yang dibutuhkan untuk
memajukan kehidupan manusia tidak akan terwujud.
Kedua, bahwa di antara tugas utama Allah SWT
dan Rasul-Nya adalah memberikan ilmu pengetahuan kepada manusia, sebagaimana
tercermin dalam wahyu Allah di dalam al-Qur’an, dan sabda Rasulullah SAW dalam
hadisnya. Allah SWT memperkenalkan dirinya sebab al-rabb atau al-Murabi yakni
sebagai pendidik, dan al-‘Alim (Maha Guru) yang memberikan pendidikan dan
pengajaran kepada manusia sebagaimana hal ini dilakukannya terhadap Nabi Adam
AS, dalam firman-Nya: Artinya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(banda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat. (Q.S.
al-Baqarah, 2:31).
Demikian pula Nabi Muhammad SAW mengenalkan dirinya sebagai
al-Mu’alim (guru) dan al-Muaddib (pendidik). Peran nabi Muhammad yang demikian
itu dinyatakan dalam firman Allah SWT.
Artinya: Yaa Tuhan kami, utuslah
untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan
membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka
al-Kitab (al-Qur’an) dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah
yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. al-Baqarah, 2:129).
Berdasarkan ayat tersebut terdapat tiga fungsi
utama yang harus dilakukan Rasulullah SAW. Pertama, membacakan ayat-ayat Allah
baik yang ada di dalam al-Qur’an (ayat qauliyah), yang ada di alam jagat raya
(ayat kauniyah), yang ada di masyarakat (ayat insaniyah-kaumiyah), yang ada
dalam akal pikiran manusia, dan yang ada dalam hati nurani manusia. Membacakan
sama artinya dengan mentransferkan ilmu pengetahuan. Kedua, mengajarkan
kandungan al-Qur’an, yakni memberikan wawasan dan pemahaman yang mendalam tentang
al-Qur’an yang menghasilkan ilmu agama. Ketiga, mensucikan diri manusia, yakni
hati nurani dari akhlak yang buruk, seperti iri, dengki, buruk sangka, fitnah
dan sebagainya, kemudian mengisinya dengan akhlak mulia. Mensucikan diri inilah
yang selanjutnya menjadi inti dari pendidikan Islam. Karena demikian
pentingnya tugas pendidikan dan pengembangan ilmu yang harus dilakukan Nabi
Muhammad SAW ini, maka tidaklah mengherankan jika Nabi Muhammad SAW sangat
menganjurkan pada setiap orang untuk belajar mulai dari buaian hingga ke liang
lahat atau yang selanjutnya dikenal dengan pendidikan seumur hidup (long life
education), belajar hingga ke tempat yang jauh (rihlah ilmiah), dan belajar itu
merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam, dan orang yang mencari ilmu akan
diampuni dosanya oleh segala sesuatu, hingga hewan di laut. (Lihat Hadis Ibn
‘Abd al-Barr dari Anas).
Ketiga, Islam
memandang, bahwa ilmu yang disertai iman merupakan sarana utama atau merupakan
strategi utama untuk meningkatkan derajat ummat manusia. Allah SWT.
1. Pada hakekatnya manusia
tidak bisa dipisahkan dari kemampuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Maka
ilmu yang disertai iman adalah ukuran derajat manusia, sehingga manusia yang
ideal adalah manusia yang mencapai ketinggian iman, ilmu dan amal.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ
ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. (QS. al-Mujâdilah: 11)
- Al-Qur’an diturunkan dengan
ilmu Allah, dan hanya dapat direnungkan maknanya oleh orang-orang yang
berilmu. Untuk memperoleh petunjuk al-Qur’an bukan saja diperlukan
ketaqwaan dan keimanan, melainkan juga ilmu pengetahuan.
قُلْ ءَامِنُوا بِهِ أَوْ لا
تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى
عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّدًا
Katakanlah: “Berimanlah kamu
kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya
orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan
kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.(QS. al-Rûm:22)
- Al-Qur’an memberikan isyarat
bahwa yang berhak memimpin ummat adalah yang memiliki ilmu, sebagaimana
Thalut dipilih sebagai raja Isrâil juga karena kelebihan ilmunya. Begitu
juga tokoh- tokoh lain yang dipilih oleh al-Qur’an sebagai contoh orang
yang berhasil juga karena ilmu yang dikuasainya.
4. Allah melarang manusia
untuk mengikuti sesuatu yang tidak ada ilmu tentangnya sebagaimana Dia menegur
Nabi Nuh ketia ia memohon sesuatu yang tidak ia ketahui.
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ
بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ
عَنْهُ مَسْئُولا
Dan janganlah kamu mengikuti
apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS. al-Isrâ’:36).
2.2 Perintah Menuntut Ilmu
Dasar hukum
menuntut ilmu yaitu berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits nabi Muhammad saw. Banyak sekali hadits dan ayat
Al-Qur’an yang menerangkan tentang menuntut ilmu.
Di dalam Islam,
menuntut ilmu merupakan perintah sekaligus kewajiban. Manusia diperintahkan
untuk menuntut ilmu, karena dengan ilmu pengetahuan kita bisa mencapai apa yang
dicita-citakan baik di dunia maupun di akhirat. Apalagi sebagai seorang muslim
itu wajib hukumnya seperti dalam sebuah hadits disebutkan bahwa :
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
bersabda:
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi
setiap muslim.”
(Hadits sahih,
diriwayatkan dari beberapa sahabat diantaranya: Anas bin Malik, Ibnu
Abbas, Ibnu Umar, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu
Anhum. Lihat: Sahih al-jami: 3913)
Maka jelas
kiranya bahwa menuntut ilmu pengetahuan memang diwajibkan. Dengan ilmu kita
bisa meraih dunia, dengan ilmu kita dapat meraih akhirat dan dengan ilmu pula
kita bisa meraih kedua-duanya.
Firman Allah
pada surat Al-Alaq ayat 1-5 , berbunyi :
Artinya : “
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan , Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang
mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya.” ( Al-Alaq : 1-5)
Ini ayat
pertama yang turun kepada Rasulullah. Ayat ini berisi perintah untuk
membaca,menulis, dan juga belajar. Allah telah memberikan manusia sifat fitrah
dalam dirinya untuk bisa belajar dan menggapai bermacam ilmu pengetahuan dan
keterampilan hingga dapat menambah kemampuannya untuk mengembanamana[4]t kehidupan di muka bumi ini.
Rasulullah
sering berbicara tentang keutamaan ilmu dan bahkan mewajibkan umatnya untuk
menuntut ilmu. Perintah untuk menuntut ilmu ini merupakan salah satu pusat
perhatian Islam bagi para pemeluknya.
Manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu
karena hal ini sebenarnya telah dijawab oleh Al-Qur’an sendiri. Dimana menurut
Al-Qur’an, Allah menciptakanmanusia dalam keadaan vakum dari ilmu, lalu Allah
memberinya perangkat ilmu agar mampu menggali ilmu dan mempelajarinya. Karena
memang ilmu itu harus digali, dipelajari, dan diamalkan sebagaimana firman-Nya:
Artinya : "Dan Allah mengeluarkan
kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan Dia
memberi kalian pendengaran, penglihatan dan hati agar kalian bersyukur”.(Q.S.
An Nahl: 78)
Pendengaran,
penglihatan dan hati atau akal adalah merupakan perangkat atau alat untuk
menuntut ilmu. Perangkat ilmu yang Allah berikan kepada manusia merupakan
sebuah potensi yang tiada ternilai harganya, dengan penglihatan, pendengaran
dan hati (akal) manusia mampu menggali ilmu. Karena kemampuannya menalar dan
mempunyai bahasa untuk mengkomunikasikan hasil pemikiran yang abstrak..
Pengetahuan itu
diperoleh manusia bukan hanya dengan penalaran, melainkan juga dengan kegiatan
berfikir lainnya, dengan perasaan dan intuisi. Lain halnya dengan hewan yang
tidak memiliki potensi tersebut karena hewan tidak mampu berbuat seperti apa
yang dapat dicapai oleh manusia. Maka sangat beralasan jika Allah memerintahkan
manusia untuk menggali lautan ilmu-Nya.
Seberapapun
tingginya ilmu dan pengetahuan manusia, hanyalah merupakan sebagian kecil saja
dari ilmu Allah. Namun kesempatan untuk memperoleh sebagian-sebagian dari ilmu
Allah yang lain tetaplah ada selama manusia mempunyai kemauan, kemampuan dan
usaha.
Dalam mencari
ilmu pengetahuan, hendaklah yang dapat memberikan manfaat bagi kebaikan di
dunia dan di akhirat baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang
lain.Mengajarkan ilmu kepada orang lain merupakan sadaqoh, sesuai dengan sabda
Nabi,
Selagi ada
kesempatan untuk mencari ilmu dan sebelum Allah mencabut atau mengangkat ilmu
dari manusia, maka carilah ilmu sebanyak-banyaknya untuk kita manfaatkan serta
kita amalkan di jalanNya. Sebab ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal
jariyah yang tak akan terputus.
“Sesungguhnya
dunia adalah terkutuk dan terkutuklah semua penghuninya kecuali orang-orang
yang mengingat Allah,para wali Allah,para orang-orang yang berilmu dan juga
orang orang yang belajar untuk mendatkan ilmu” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Rosulullah
selalu antusias dalam menyebut ilmu dan orang-orang yang mempelajarinya dengan
gigih. Rosulullah selalu menyerukan kepada semua kaum muslimin untuk
mempelajari berbagai macam ilmudan mengajarkannya kepada manusia sebagaimana
diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa rosulullah bersabda
Artinya
belajarlah akan suatu
ilmu dan lalu ajarkanlah (ilmu tersebut) kepada manusia. Pelajarilah ilmu
faroidh (ilmu waris) dan lalu ajarkan kepada manusia. Pelajarilah al-qur’an dan
lalu ajarkanlah kepadda manusia.
2.3 Metode kewajiban
Selain
Al-Qur’an banyak sekali hadits yang menjelaskan keutamaan ilmu dan kedudukan
ulama, baik dimata Allah maupun dimata manusia, di dunia maupun di akhirat.
Ulama di hargai demikian tingginya tak tertandingi oleh siapapun, dan tak
mungkin dapat dikejar, kecuali melalui ilmu.
Berikut beberapa keutamaan ilmu yang
disebutkan didalam Al-qur’an dan As-Sunnah:
1. kelebihan ilmu dibanding ibadah
Salah satu
fadhilah ilmu dari ibadah adalah bahwa kebanyakan manfaat ibadah terbatas pada
pelakunya. Orang yang melakukan salat atauberpuasa, haji, zikir dan ibadah yang
lai, akan mendapat kebaikan-kebaikan amal perbuatannya dan peningkatan
derajatnya. Tetapi, masyarakat lain tidak akan mndapat ganjaran mereka
sedikitpun secara langsung. Berbeda dengan ilmu; ia bermanfaat jauh melampui si
pilaku itu sendiri, sampai pada orang yang mendengarnya, atau membacanya. Ilmu
tidak mengenal ikatan, tidak pula mengakui adanya dinding dan jurang pemisah.
Lebih-lebih pada zaman kita sekarang, ketika ilmu tersebar luas melalui radio
dan televisi yang dapat ditangkap dalam beberapa detik dan bahkan dalam
seketika itu juga para pendengar dan para pemirsa yang ada diberbagai tempat.
2. Ilmu tidak terputus lantaran berahirnya
hayat
Ilmu tidak
terputus lantaran berahirnya hayat, dan ilmu tidak mati dengan kematian
pemiliknya. Tetapi bagi orang yang salat, atau berpuasa, atau membayar
zakat,berhaji, berumroh, bertasbih, bertahlil, berzikr, dan bertakbir, semua
amal ini mendapat balasandari allah, tetapi balasan itu terputus lantaran
selesai atau berakhirnya amala tertentu. Adapun ilmu, ia terus berpengaruh
selama orang masih memanfaatkanya.[6]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda:
"Apabila
seorang keturunan Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari
tiga hal: shadaqah jariyyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau seorang anak
shalih yang mendo'akannya." (HR. Muslim no.1631)
Betapa besarnya
kebaikan yang akan didapatkan oleh orang yang berilmu berupa pahala dan kebaikan-kebaikan
yang banyak. Dan pahala tadi akan terus mengalir kepadanya tanpa terputus
selama ilmunya disampaikan oleh murid-muridnya dari generasi ke generasi
berikutnya, dan selama kitab-kitabnya dan tulisan-tulisannya dimanfaatkan oleh
para hamba di berbagai negeri, dan seperti inilah pahala dan ganjaran orang
yang berilmu akan tetap sampai kepadanya setelah kematiannya dengan sebab ilmu
yang telah dia tinggalkan untuk manusia, di mana mereka mengambil manfaat
terhadap ilmunya.
3. Ilmu
merupakan tanda kebaikan seorang hamba
Ketika seorang
hamba diberi kemudahan untuk memahami dan mempelajari ilmu syar’i, itu
menunjukkan bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi hamba tersebut, dan
membimbingnya menuju kepada hal-hal yang diridhai-Nya.
Kehidupannya
menjadi berarti, masa depannya cemerlang, dan kenikmatan yang tak pernah
dirasakan di dunia pun akan diraihnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
bersabda:
“Siapa yang
Allah kehendaki kebaikan kepada seorang hamba maka Ia akan difahamkan tentang
agamanya.”
(Muttafaq Alaihi dari Muawiyah bin Abi
Sufyan Radhiallahu anhuma)
4. Orang yang
berilmu akan ditinggian derajatnya
Sesungguhnya allah akan meningkatkan
derajat orang-orang yang mau menuntut ilmu sebagaimana firmannya:
Artinya :Hai
orang orang yang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “ Berlapang lapanglah
dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu maka berdirilah, niscaya Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan” ( Q.S Al-Mujaadalah:11)
Ditinggikannya
derajat dengan beberapa derajat, ini menunjukkan atas besarnya keutamaan, dan
ketinggian di sini mencakup ketinggian maknawiyyah di dunia dengan tingginya
kedudukan dan bagusnya suara (artinya dibicarakan orang dengan kebaikan) dan
mencakup pula ketinggian hissiyyah (yang dirasakan oleh tubuh dan panca indera)
di akhirat dengan tingginya kedudukan di jannah. (Fathul Baarii 1/141)
Allah pun akan
meninggikan derajat orang orang yang berilmu sebagaimana diri-Nya memuliakan
diri-Nya dan mengagungkan kekuasaan-Nya, lalu setelahnya Dia memuliakan
malaikat dan kemudian memuliakan orang orang yang berilmu, sebagaimana
firman-Nya:
Artinya :“ Allah menyatakan bahwasannya
tidak ada Tuhan(yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan.
Para malaikat dan orang orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).
Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana” Q.S Ali Imran:18
5. menuntut ilmu merupakan ibadah dan akan dipermudah jalan
menuju syurga
Menuntut ilmu
adalah ibadah, bahkan merupakan Ibadah yang paling agung dan paling utama,
sehingga Allah menjadikannya sebagai bagian dari jihad fisabilillah,
sebagaimana firmanNya dalam surat At Taubah 122
Artinya :tidak sepatutnya bagi
mu’min itu pergi semuanya (medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap
golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka
tentang agama dan untuk member peringatan pada kaumnya apabila mereka telah
kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya
Rosulullah bersabda
Artinya: barang siapa menempuh jalan
demi mengharapkan suatu ilmu, maka allah akan mempermudah jalan baginya menuju
syurga. Sesungguhnya malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya karena
keridhaannya akan pencari ilmu. Sesungguuhnya semua yang ada di langit dan di
bumi dan bahkan lumba-lumba di lautan sekalipun, akan selaly memintakan ampunan
bagi orang yang berilmu
6.
ilmu adalah kehidupan dan cahaya
Dalam banyak ayat, Al qur’an
menganggap ilmu sebagai kehidupan dan cahaya, sedangkan kebodohan merupakan
kematian dan kegelapa. Seperti diketahui semua bentuk kejahatan disebabkan oleh
ketiadaan kehidupan dan cahaya,dan semua kebaikan disebabkan oleh cahaya dan
kehidupan.
2.3.1 Syarat-syarat menuntut ilmu
Dalam kitab
“Ta’lim al-Muta’allim” yang ditulis oleh Imam Al-Zarnuji, beliau menulis bahwa syarat-syarat mencari ilmu itu
ada 6 yaitu:
1. Cerdas
(Dzakaun)
Kecerdasan merupakan syarat pertama
yang harus dipenuhi oleh thalibul ilmi. Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa
orang yang pintar adalah orang yang mengetahui bahwa ia tidak tahu akan sesuatu
dan karenanya dia mau belajar.
Maksud cerdas disini bukanlah tingkatan
kepintaran, melainkan tidak gila. Orang tersebut haruslah waras, dapat
membedakan mana angka satu dan dua, mana hitam dan putih, mana baju dan celana.
2. Rakus
(hirsun)
Rakus adalah
(punya kemauan dan semangat untuk berusaha mencari ilmu)
menurut Imam as-Syafi’i, dalam menuntut ilmu janganlah langsung merasa puas terhadap apa yang telah didapat dan jangan hanya menuntut ilmu di satu daerah saja.
menurut Imam as-Syafi’i, dalam menuntut ilmu janganlah langsung merasa puas terhadap apa yang telah didapat dan jangan hanya menuntut ilmu di satu daerah saja.
“Tidak cukup teman belajar di dalam
negeri atau dalam satu negeri saja, tapi pergilah belajar di luar negeri, di
sana banyak teman-teman baru pengganti teman sejawat lama, jangan takut
sengsara, jangan takut menderita, kenikmatan hidup dapat dirasakan sesudah
menderita.” (diambil dari kitab Sejarah Hidup dan Silsilah Syekh Kiyai
Muhammad Nawawi Tanara Banten yang ditulis oleh H. Rofiuddin. Hal. 4).
3. Sabar
Seorang yang
menuntut ilmu sudah barang tentu akan menghadapi macam-macam gangguan dan
rintangan. Selain berusaha maka bersabarlah untuk menghadapi semua itu, dan
perlu diketahui bahwa sabar adalah sebagian dari Iman, “As-Shobru mina
al-iman”. Dan Sabar disini mengandung arti tabah, tahan menghadapi cobaan atau
menerima pada perkara yang tidak disenangi atau tidak mengenakan dengan ridha
dan menyerahkan diri kepada Allah Swt, akan tetapi kesabaran disini harus
diartikan dalam pengertian yang aktif bukan dalam pengertian yang pasif.
Artinya nrimo (menerima) apa adanya tanpa usaha untuk memperbaiki keadaan.
4. Modal/bekal
Seperti
dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan wajib hukumnya bagi setiap muslim, dan
dijelaskan lagi dalam hadis “Tuntutlah ilmu mulai dari rahim ibu sampai liang
lahat”. Dari hadis tersebut kita bisa mengetahui bahwa, seumur hidup kita wajib
menuntut ilmu. Pendidikan bukan hanya pendidikan formal tetapi non formal pun
ada. Rasul menjanjikan kepada para penuntut ilmu,
“Sesungguhnya Allah pasti
mencukupkan rezekinya bagi orang yang menuntut ilmu” Dan yakinkanlah
bagi para penuntut ilmu walaupun dengan segala kekurangan (biaya) pasti mampu atau
bisa menyelesaikan pendidikan. Karena pasti akan ada jalan lain selama manusia
berusaha dan yakin terhadap kekuasaan dan pertolongan Allah Al-Yaqinu Lâ Yuzâlu
bi as-Syak Artinya: ”keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keragu-raguan”.
Dan akhirnya maka tidak ada alasan orang tidak bisa menuntut ilmu karena biaya,
seperti keterangan sebelumnya carilah jalan lain, solusi lain untuk bisa
menuntut ilmu.
5. Petunjuk
guru
Banyak orang
yang tersesat karena belajar tanpa guru, seoarng tholibul ilmi hendaklah
mempunyai seorang guru sebagai petunjuk, walaupun ada yang mengatakan bahwa
buku adalah guru yang besar, tapi buku tidak bisa mituturi (memberi
nasihat)
6. Karena
ilmu sangat luas dan tidak memiliki akhir maka sudah barang tentu membutuhkan waktu
yang sangat lama. Pepatah Arab mengatakan :”Tuntutlah ilmu dari buaian sampai
ke liang lahat” seorang pelajar harus mengulang-ulang pelajaran yang telah
didapat, jadi dalam mencari ilmu tidaklah cukup dalam waktu yang singkat.Seperti contoh seorang untuk menjadi
Doktor harus melalui SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, dan itu bukanlah
waktu yang singkat.
2.3.2 Adab mencari ilmu
1. Niat
Niat dalam menuntut ilmu adalah untuk
mencari ridho Allah. Hendaknya diringi dengan hati yang ikhlas benar-benar
karena Allah. Bukan untuk menyombongkan diri, menipu orang lain ataupun pamer
kepandaian, tetapi untuk mengeluarkan diri dari kebodohan dan menjadikan diri
kita bermanfaat bagi orang lain
:
2. Bersungguh-sungguh
Dalam menuntut ilmu haruslah bersungguh-sungguh
dan tidak pernah berhenti. Allah mengisyaratkan dalam firman-Nya yang berbunyi
: “Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami pastilah akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan Kami.”
3. Terus menerus
Hendaklah kita jangan mudah puas atas
ilmu yang kita dapatkan sehingga kita enggan untuk mencari lebih banyak lagi.
Seperti pepatah yang disampaikan oleh Sofyan bin Ayyinah : “Seseorang
akan tetap pandai selama dia menuntut ilmu. Namun jika ia menganggap dirinya
telah berilmu (cepat puas) maka berarti ia bodoh.” Allah lebih
menyukai amalan yang sedikit tapi dilakukan secara terus menerus dibandingkan
amalan yang banyak tetapi hanya dilakukan sehari saja.
4. Sabar dalam menuntut ilmu
Salah satu kesabaran terpuji yang harus
dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah sabar terhadap gurunya seperti kisah
Nabi Musa as dan Nabi Khidr as (QS Al Kahfi : 66-70). Kita jangan cepat putus
asa dalam menuntut ilmu jika mendapatkan kesulitan dalam memahami dan
mempelajari ilmu.
5. Menghormati dan memuliakan orang yan
menyampaikan ilmu
Di antara penghormatan murid terhadap
gurunya adalah berdiam diri maupun bertanya pada saat yang tepat dan tidak
memotong pembicaraan guru, mendengarkan dengan penuh khidmat, dan memperhatikan
ketika beliau menerangkan, dan sebagainya.
6. Baik dalam bertanya
Bertanya hendaknya untuk menghilangkan
keraguan dan kebodohan diri kita, bukan untuk meremehkan, menjebak, mengetes,
mempermalukan guru kita dan sebagainya.l Aisyah ra tidak pernah mendengar sesuatu
yang belum diketahuinya melainkan sampai beliau mengerti. Orang yang tidak mau
bertanya berarti menyia-nyiakan ilmu yang banyak bagi dirinya sendiri. Allah
pun memerintahkan kita untuk bertanya kepada orang yang berilmu seperti dalam
firman-Nya dalam QS An-Nahl:43
Artinya
: dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami
beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah pada orang-orang yang memiliki
pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
Untuk itu, menuntut ilmu merupakan
jalan menuju kebahagiaan yang abadi. Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut
ilmusyar’i. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa salam bersabda :
2.3.3 Hadits tentang keewajiban mencari ilmu
1. Hadits
tentang hukum
menuntut ilmu
Hadits tentang
hukum menuntut ilmu merupakan penjelasan tentang hukum mencari ilmu bagi setiap
orang Islam laki laki maupun perempuan, yang telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu
Majah dan lain lain. Akan
tetapi hadits tersebut diberi tanda lemah oleh imam Syuyuti.
Adapun hukum menuntut ilmu menurut
hadits tersebut adalah wajib. Karena melihat betapa pentingnya ilmu dalam
kehidupan dunia maupun akhirat. Manusia tidak akan bisa menjalani kehidupan ini
tanpa mempunyai ilmu. Bahkan dalam kitab taklimul muta’allim dijelaskan bahwa
yang menjadikan manusia memiliki kelebihan diantara makhluk – makhluk Allah
yang lain adalah karena manusia memilki ilmu.[3]
Apabila kita
memperhatikan isi Al-Quran dan Al-Hadits, maka terdapatlah beberapa suruhan
yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, untuk
menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut
kejahilan dan kebodohan. Menuntut
ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan menanya,
melihat atau mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadits
Nabi Muhammad saw.
Dan janganlah
memberikan ilmu kepada orang yang enggan menerimanya, karena orang yang
enggan menerima ilmu tidak akan mau untuk mengamalkan ilmu itu bahkan mereka
akan menertawakannya.[4]
Dalam hadits lain juga telah
disebutkan bahwa :
اطلب العلم من المحد الى اللهد0 (رواه
مسلم)
“Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat” (H. R. Muslim)
2. Hadits
tentang anjuran menjaga ilmu
Rosulullah mengucapkan hadits ini pada saat Haji Wada’.
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tabrani dari hadits Abu
Umamah bahwa pada saat haji Wada’ Nabi bersabda :“Pelajarilah ilmu sebelum
datang masa punahnya ilmu”.
Arabi berkata “Bagaimanakah cara
ilmu itu datang dan dimusnahkan? Beliau bersabda : “Punahnya ilmu itu dengan
punahnya para ulama ( orang yang menguasai ilmu)”
Hadits ini
berisi anjuran menjaga ilmu, peringatan bagi pemimpin yang bodoh, dan
peringatan bahwa yang berhak mengeluarkan fatwa adalah pemimpin yang benar –
benar mengetahui dan larangan bagi orang-orang yang berani mengeluarkan fatwa
tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan. Hadits ini juga dijadikan alasan oleh para ulama bahwa pada
zaman sekarang ini tidak ada lagi seorang mujtahid.[5]
Dalam hadits lain juga disebutkan
anjuran untuk memelihara ilmu pengetahuan, diantaranya yaitu hadits yang
diriwayatkan oleh Bukhori Muslim:
و كتب عمر بن عبد العزيز الى ابى بكر
ابن حزم: انظر ما كان من حديث رسول الله ص.م. فاكتبه فانى خفت دروس العلم و ذهب
العلمآء. و لا تقبل الا حديث النبي ص.م. و التفشو العلم. و التجلس حتى يعلم من لا
يعلم. فأن العلم لا يهلك حتى يكون سرا. (متفق عليه)
Umar bin Abdul aziz menulis surat kepada Abu bakr bin Hazm”
kumpulkan hadits – hadits Nabi yang kau temukan dan tulislah, aku khawatir akan
hilangnya ilmu dan perginya para ulama (meninggal)janganlah engkau terima
selain hadits Nabi. Pelajarilah ilmu dengan seksama sampai mengetahui sesuatu
yang tidak diketahui,ilmu tidak akan rusak kecuali setelah menjadi rahasia
(H.R. Bukhori-Muslim).[6]
3. Hadits
tentang keutamaan menuntut ilmu
Adapun munasabah yang berkaitan tentang keutamaan menuntut
ilmu yaitu,
Dari Anas bin
Malik Rasulallah SAW bersabda:“barang siapa keluar untuk mencari ilmu maka ia
berada di jalan Allah sehingga ia kembali. (HR. Tirmidzi).
Dalam hadits yang kedua Rasulullah menegaskan bahwa menuntut ilm
itu dinilai sebagaai berjuang di jalan Allah, sehingga barang siapa yang
mencari ilmu dengan sungguh-sungguh dia akan mendapatkan pahala yang berlipat
ganda bahkan bila sesorang meninggal dunia saat mencari ilmu dia akan
mendapatkan surganya Allah karena
dinilai sama dengan mati syahid.
4. Hadits
tentang peran ilmu terhadap pendidikan
Rosulullah SAW memerintahkan untuk
mendidik anak-anaknya dengan tiga perangai :
a. Cinta
terhadap Nabinya, karena cinta terhadap Nabi adalah lebih utama dari pada cinta
terhadap kedua orang tuanya bahkan terhadap dirinya sendiri, sebagaimana
dijelaskan dalam sebuah hadits :
عن انس بن مالك رضى الله عنه انه قال
. قال النبي صلى الله عليه وسلم : لا يؤمن احدكم حتى اكون احب اليه من والده
وولده والناس اجمعين. (رواه البخارى)
Dari Anas r.a. bahwasanya dia berkata, Nabi SAW bersabda,”
Seseorang diantara kamu tidak beriman, sehingga aku lebih dicintai
daripada orang tua, anak-anak dan manusia seluruhnya.” ( H.R. Bukhori )[7]
b. Cinta kepada keluarga Nabi, karena
barang siapa cinta kepada seseorang maka ia akan cinta kepada apa yang dicintai
oleh seseorang tersebut dan keturunanya. Sesungguhnya keluarga Nabi adalah
lebih berhak mendapatkan cinta, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al
Ahzab ayat 33 :
انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس
اهل البيت و يطهركم تطهيرا
Sesungguhnya Allah bermaksud
hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya.
c. Memberikan
pengajaran Al-Qur’an terhadap anak, belajar Al-Qur’an dan mengamalkanya adalah
yang paling penting dan utama, karena dengan Al-Qur’an manusia menjadi umat
yang paling mulya, sebagaimana dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dari
sahabat Ustman r.a. Rosulullah SAW bersabda :
عن عثمان بن عفان رضى الله عنه عن
النبى صلى الله عليه وسلم قال ان افضلكم من تعلم القراّن و علمه. (رواه البخارى)
Dari Ustman bin Affan r.a., dari Nabi SAW,beliau
bersabda : Sesungguhnya orang termulia diantara kamu adalah orang yang belajar
dan mengajarkan Al-Qur’an. (H.R. Bukhari)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Islam mewajibkan kita
menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna untuk menuntut kita
dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap
muslim jangan picik ; dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam
batas-batas yang diridhai Allah swt. Rasulullah Saw.,bersabda:
مٍطَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu
diwajibkan bagi setiap orang Islam” . (Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu
Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)
Seorang muslim tidaklah
cukup hanya menyatakan ke-Islamannya, tanpa memahami Islam dan mengamalkannya.
Pernyataannya itu harus dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam.
Untuk itu, menuntut
ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi. Seorang muslim diwajibkan
untuk menuntut ilmu syar’i. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa
salam bersabda :
طَلَبُ
الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه ابن ماجه 224 عن أنس بن
مالك )
Menuntut ilmu itu wajib
atas setiap muslim. (HR Ibnu Majah No. 224 dari
shahabat Anas bin Malik t, lihat Shahih Jamiush Shagir, no. 3913)
3.2
Saran
Kita sebagai golongan
terpelajar jangan hanya menjadikan kitab- kitab hadist sebagai buku hiasan saja
atau buku pelengkap referensi, tetapi hendaklah kita baca, maknai, dan
ditafsiri dengan baikdan selanjutnya di amalkan dengan segenap kemampuan. Dan
kiranya makalah kami ini sangat jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran dari
pembaca sangat kami harapkan demi meningkatkan kesempurnaan makalah yang kami
tulis ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Abdillah Muhammad Bin Ismail
al-bukhori al-Jufri, Shohih Bikhori.
Abu ar-Rahman Ahmad Bin Syu’aib
al-Nisa’i, Sunan al-Nisa’i
Abu Daud Sulaiman Ibn al-Asy’as
al-Sjastani al-Azdi, SunanAbu Daud.
Al
Qur’an Al Karim
Al-asqolani,
Ibnu Hajar. 2002. Fathul Baari Syarah. Jakarta. Pustaka Azzam
Al-Mundiri
Hafidz. 2000. Terjemah Attarghib wat tarhib. Surabaya. Al-Hidayah
As
Shobuni, Muhammad ‘Ali, 1420 H-1999 M, Min Kunuz As Sunnah,
Jakarta, Dar Al Kutub Al Islamiyah.
Az-zarnuzi. Ta’limul
Muta’allim. Surabaya: Al-Hidayah
KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU
Di
S
U
S
U
N
Oleh
ISNA MALINDA
180410144
Dosen Pembimbing : Fuadi, S.Ag,.
M.Ag
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
|


0 Comments