Hikayat Penciptaan Bintang
-Karya Suguh Kurniawan-
Dulu ketika peri peri hidup di bumi dan
jumlah manusia masih sedikit, pada batang pohon oak berdaun rindang dalam
belantara, tinggallah peri yang selalu durja. Tiap hari kerjanya hanya
menangis. Matanya sembab dan raut wajahnya murung. Kalau malam tiba,
tangisannya terdengar ke seluruh penjuru hutan hingga pohon pohon dan binatang
binatang terjaga dari tidur mereka. Kalau siang datang, lamunannya panjang
seolah sedang memikirkan perkara yang maha berat.
Karena tangis sang peri tak kunjung reda
dan membuat seluruh penghuni hutan terusik, datanglah angin padanya. Angin
bertanya kenapa ia begitu bersedih? Peri bangkit dari sandaran,
dikibas-kibaskan sayap kecilnya kemudian duduk dengan cara mendekap lutut di atas
punggung angin. “Kawan kawanku telah pergi. Mereka telah pindah ke utara untuk
mencari rumah baru dengan meninggalkanku” “Kenapa kawan kawanmu meninggalkanmu
?” tanya angin. Sang peri diam. “Kenapa?”, desak angin. “Karena aku buruk rupa”
jawabnya sambil memalingkan wajah. Kemudian tampaklah benjolan besar di pipi
sebelah kanannya hingga karena benjolan itu mukanya terlihat bopeng. Sedang di
seluruh permukaan wajahnya terdapat pula banyak bintik merah, yang kalau satu
saja bintik itu pecah maka terciumlah bau tak sedap ke seluruh tempat di mana
ia berada. Dengan wajah seperti itu, peri peri lain selalu mengejeknya.
Sang peri mengajak angin menuruni pohon,
kemudian mereka terbang menuju telaga. Sesampainnya di sana tampaklah bulan
yang bayangan wajahnya terpantul di atas permukaan air. “Kau tahu,” lirihnya.
“keinginanku sekarang, aku ingin cantik dan bersinar seperti dia, dengan begitu
niscaya sirnalah kedukaanku”. Angin menggelengkan kepala, “Tak mungkin” katanya
dalam hati. Bulan begitu agung, ia perhiasan malam sebagaimana matahari menjadi
perhiasan siang. Setiap mahluk tentu boleh bermimpi untuk memiliki
kecantikannya namun mustahil bisa mendapatkannya. Mimpi memiliki kecantikan
bulan hanya akan berakhir pada kesia-saiaan.
Sang peri menatap angin lalu berkata,
“Akan kuminta bulan agar membagi kecantikannya denganku, kan kujumpai ia
sekarang”. Terbanglah ia menuju langit, namun begitu sampai di antara gumpalan
awan, ia terpental ke bumi, sayapnya terlalu kecil dan napasnya lebih dulu
habis sebelum sampai ke atas sana. Berkali kali ia mencoba namun lagi lagi
terpental. Sang peri menghampiri angin, ia meminta agar angin mengantarnya.
Angin menggelengkan kepala kembali. katanya Perjalanan dari bumi kebulan sangat
jauh, tak satu mahlukpun dapat sampai kesana termasuk dirinya.
Wajah sang peri bertambah muram. Kesedihan
makin membayangi. Ditatapnya lagi bayangan bulan di atas telaga, lama dan
dalam. Ketika ia terpesona oleh kecantikan tersebut, kepalanya menjadi berat,
pandangannya memburam dan akhirnya karena merasakan kelelahan yang sangat,
iapun ambruk tak sadarkan diri.
Saat siuman, pandangan sang peri masih
kabur sedang pusing membebat kepalanya. Namun dalam pandangan yang belum jernih
tersebut, ia melihat bayangan terang keemasan di hadapannya. Makin lama bayangan
itu makin jernih. Alangkah terkejutnya ia begitu mengetahui kalau ternyata
bulan telah turun ke bumi tuk menemuinya. Ketika peri hendak mengatakan
sesuatu, bulan lebih dulu memotong dengan berkata “Aku sudah tahu apa yang kau
inginkan”.
Bulan menjulurkan tangan dan mendekap sang
peri di dadanya. Tanya bulan, apakah cantik adalah syarat utama untuk dapat
mencinta dan dicinta? Benarkah menjadi cantik itu menyenangkan? Sang peri
mengerutkan dahi. Bulan kembali berkata dengan meyampaikan sebuah rahasia, kalau
kecantikan yang diinginkan sang peri nyatanya sekadar kefanaan karena suatu
ketika ia kan pudar. Itulah kecantian jasmani, yang karenanya telah membuat
para lelaki tertipu hingga rela saling menghunus pedang, membunuh dan
menghancurkan. Ia yang cantik jasmani saja umpama dadu yang terbuat dari
kobaran api, yang membuat para lelaki saling berebut mendapatkannya walau amat
panas ia digenggaman. Sejarah kecantikan jasmani adalah sejarah pertumpahan
darah, kedengkian, kesombongan dan tipuan.
“Apakah aku tidak boleh menjadi cantik”
tanya sang peri. Bulan tersenyum, bukan begitu jawabnya. Lebih dari cantik ia
juga harus berguna. Ia harus bisa memberi manfaat bagi manusia, binatang
binatang, tumbuhan dan pohon pohon. Karena ketika wanita cantik menuntut agar dirinya
dicintai, wanita berguna justru berbagi dan memberi, itulah hakekat kecantikan
sesunggguhnya kata bulan. peri menatap wajah bulan yang anggun. Ia bertanya apa
yang harus ia lakukan agar menjadi cantik sekaligus berguna? Bulan menjawabnya
hanya dengan senyuman.
Kemudian ia membawa peri terbang ke
langit. Begitu sampai di pusat tata surya, ia meletakan sang peri di tangannya.
Bulan meminta peri menutup mata. Dengan sebuah tiupan ajaib yang mengeluarkan
sinar perak dari mulutnya, tubuh sang peri menjadi hangat karena diselimuti
sinar itu. Tak lama sekujur tubuhnya pun bergetar, berguncang guncang,
meregang. Lalu dalam hitungan detik wujudnya telah berubah menjadi bintang yang
bersinar sangat terang. Ialah bintang pertama yang lahir dalam sejarah tata surya.
Sang peri bahagia, ia menari nari,
menyanyi, tertawa karena dirinya menjadi cantik. Ia berterimakasih atas
perubahan dirinya. Bulan kembali berkata, sekarang aku akan menunjukan cara
agar engkau menjadi lebih berguna bagi mahluk lain. Mulai saat ini bimbinglah
mahluk mahluk yang tersesat di bumi dengan cahayamu. Pandu mereka yang tersesat
dan tak dapat menemukan rumahnya, tunjukan sampan sampan nelayan yang
kehilangan arah pelayarannya, beritahu para pengembara yang sedang kebingungan
menentukan jalur pengembaraannya. Jadilah penunjuk jalan bagi siapapun yang
membutuhkan.
Mulai saat itu sang peri tinggal di
langit. Ia mengembara mencari mahluk mahluk yang tersesat dalam perjalanan
kemudian dengan cahayanya menunjukan mereka arah yang benar hingga sampai ke
tujuan. Suatu hari dilihatnya rombongan peri yang kelelahan di padang pasir
gersang. Ketika sadar mereka adalah teman temannya yang tersesat, mengedip
ngediplah ia dan menunjuk arah tenggara. Peri peri kaget, karena di langit
terdapat setitik cahaya terang yang sangat cantik. Atas petunjuk cahaya itu
mereka terbang kembali. Tak lama di hadapan mereka terhampar taman bunga yang
luas. Peri peri bersorak setelah berhasil menemukan rumah baru. Tak satupun
dari mereka tahu, kalau bintang cantik penunjuk jalan itu adalah salah satu
dari mereka yang telah mereka kucilkan dulu. Mereka hanya bisa terkesima, kagum
dan berharap dapat memiliki kecantikan seperti sang bintang. Tak ada yang tahu
rahasia ini kecuali angin. Dimana ia selalu menyaksikan bayangan sang bintang
yang kini berdampingan bersama bulan di atas permukaan telaga dengan segenap
rasa kagum yang melingkupi dadanya.
Analisis
Konteks Wacana
Konteks
Wacana : Latar, peserta, hasil, cara, sarana, norma, dan jenis
Topik
sebagai konteks : Topik,
konteks, dan topik sebagai konteks
Analisis pada percakapan yang
ada di Cerpen Hikayat Penciptaan Bintang
Percakapan
1 : Latar : di hutan dekat pepohonan
Peserta : sang peri dan sang angin
Hasil :
mengetahui apa penyebab dari kesedihan si peri
Cara :
sikap peri = lesu, sedih, dan tak bersemangat
sikap angin = santai
Percakapan
2 : Latar : di telaga
Peserta : peri dan angin
Hasil : berusaha meraih bulan, untuk mencapai keinginan sang peri, namun tak berhasil
Cara : sikap peri = antusias dan penuh semangat
sikap angin = santai
Percakapan
3 : Latar : di telaga
Peserta : sang peri dan sang bulan
Hasil : mendapatkan solusi untuk permasalahan yang
dialami oleh peri
Cara : sikap peri : semangat dan penuh dengan
rasa bahagia
sikap bulan : santai dan bersahaja
Sarana : tulisan (cerpen)
Norma : komunikasi dilakukan secara dua arah
Jenis : termasuk jenis cerpen yang bergenre
fantasi
Topik : kecantikan
Situasi :
non-formal
Konteks : perdebatan hati/gejolak nafsu
(keinginan)
Amanat
: kecantikan rupa bukanlah segalanya, melainkan kefanaan. Cantik itu adalah pribadi
yang baik, yang senantiasa mengagumkan bagi semua orang.

0 Comments