BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Olimpiade
Fisika Internasional (OFI) merupakan kompetisi internasional dalam bidang
fisika untuk pelajar SMU. Beberapa tujuan penyelenggaraan OFI antara lain:
untuk membandingkan kemampuan para siswa terbaik dari berbagai Negara dalam
bidang fisika, untuk mengadakan kerjasama dan saling berbagi pengalaman mengembangkan
fisika diantara sesama pimpinan tim dan untuk memberi kesempatan para pelajar
terbaik dari seluruh dunia berinteraksi satu sama lain serta membangun
kerjasama yang mungkin berguna di kemudian hari. OFI pertama kali diadakan di
Warsawa pada tahun 1967 dan sejak tahun itu OFI diadakan secara rutin setiap
tahun di berbagai negara, kecuali tahun 1973, 1978 dan 1980. Dalam OFI para
peserta diberikan 2 jenis soal: soal fisika teori dan soal fisika eksperimen
yang harus dikerjakan masing-masing dalam waktu 5 jam(1) Indonesia
berpartisipasi di Olimpiade Fisika Internasional sejak tahun 1993 atas prakarsa
2 orang mahasiswa College of William and Mary: Yohanes Surya dan Agus Ananda.
Sejak tahun itu Indonesia secara rutin mengikuti Olimpiade Fisika Internasional
bahkan Indonesia diminta untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Fisika Asia (OFA)
pertama pada tahun 2000(2).
2. Sejarah Olimpiade Fisika
Ide
penyelenggaraan OFI berawal dari keberhasilan dan dampak positif dari penyelenggaraan
Olimpiade Matematika Internasional (OMI) yang telah diselenggarakan sejak tahun
1959. Saat itu Prof. Czelaw Scislowski, Prof. Rostislav Kostial (Cekoslowakia),
dan Prof. Rudolf Kunfalvi (Hongaria) mengadakan rapat untuk mengadakan OFI pertama,
dan mereka sepakat untuk mengadakan olimpiade ini di Warsawa pada tahun 1967. OFI
pertama ini diikuti oleh 5 negara: Bulgaria, Cekoslowakia, Hungaria, Rumania
dan tuan rumah Polandia. Tiap negara mengirimkan 3 wakilnya dan 1 pimpinan tim.
Pada olimpiade fisika ini para peserta diminta untuk mengerjakan 4 soal fisika
teori dan 1 soal fisika eksperimen. OFI ke -2 diadakan di Budapest (Hongaria)
pada tahun 1968, diikuti oleh 8 negara yaitu 5 negara dari OFI ke -1 ditambah 3
negara yaitu Republik Demokrasi Jerman (Jerman Timur), Uni Sovyet dan Yugoslavia.
Pada OFI ke -2 ini untuk pertamakali aturan dasar OFI di terbitkan yang sampai
sekarang ini masih dipakai (tentunya dengan perubahan-perubahan sedikit). OFI
ke -3 diadakan di Brno, Cekoslowakia pada tahun 1969. Pada OFI ini tiap negara
boleh mengirim 5 siswa dan 2 orang pimpinan tim. Sampai sekarang jumlah 5 siswa
dan 2 pimpinan tim untuk tiap negara ini tetap dipertahankan. OFI IV diadakan
di Moskow, Uni Sovyet pada tahun 1970, OFI V di Sofia, Rumania pada tahun 1971
dan OFI VI di Bukares, Rumania pada tahun 1972. Pada OFI VI inilah untuk
pertamakalinya negara non-eropa: Kuba dan negara Eropa Barat: Perancis, ikut
serta. Tahun 1973 tidak diadakan olimpiade fisika. OFI VII diadakan baru pada
tahun 1974. Dalam OFI VII ini terjadi perubahan-perubahan mendasar yaitu jumlah
soal teori dikurangi dari 4 soal menjadi 3 soal; jumlah bahasa yang digunakan
menjadi 2 bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Rusia; antara soal test teori
dan eksperimen diberi selang waktu 1 hari.
Hal
penting yang patut dicatat adalah pada OFI ke XV terpilih Prof. Waldemar
Gorzkowski sebagai Presiden OFI yang dijabatnya hingga sekarang. Pada olimpiade
ini juga dibentuk International Board yang terdiri dari para pimpinan tim tiap
negara. Tugas International Board ini adalah untuk memecahkan masalah-masalah
yang timbul pada penyelenggaraan OFI.
Jika
diamati minat untuk mengikut OFI setiap tahun meningkat. Jumlah Negara yang
berpartisipasi terus meningkat dari 5 negara di OFI pertama terus bertambah hingga
menjadi 66 negara dalam OFI ke 33 yang diadakan di Bali tahun 2002 yang baru
lalu. Ke 66 negara yang berpartisipasi dalam OFI ke 33 adalah: Albania,
Armenia, Australia, Austria, Azerbaijan, Belarus, Belgium, Bolivia, Bosnia
& Herzegovina, Brazil, Bulgaria, Canada, China, Colombia, Croatia, Cuba,
Cyprus, The Czechlands, Denmark, Estonia, Finland, Georgia, Germany, Great
Britain, Hungary, Iceland, India, Indonesia, Iran, Ireland, Italy, Kazakhstan,
Kuwait, Kyrgyzstan, Latvia, Liechtenstein, Lithuania, Macedonia, Malaysia,
Mexico, Moldova, Mongolia, The Netherlands, Norway, Pakistan, Philippines,
Poland, Portugal, Romania, Russia, Saudi Arabia, Singapore, Slovakia, Slovenia,
South Korea, Spain, Suriname, Sweden, Switzerland, Taiwan, Thailand, Turkey,
Turkmenistan, Ukraine, Vietnam, Yugoslavia.
3. Tujuan Kegiatan Olimpiade Fisika
·
Menumbuh kembangkan iklim kompetisi yang
sehat di lingkungan peserta didikjenjang pendidikan dasar dan menengah di
tingkat sekolah, kabupaten/kota,provinsi, nasional, dan internasional;
·
Menjaring peserta didik unggul pada
jenjang pendidikan dasar dan menengahdalam bidang matematika, sains, dan
teknologi untuk disiapkan menjadi TimNasional dalam kompetisi tingkat internasional;
·
Meningkatkan motivasi peserta didik
menengah dalam penguasaan bidangmatematika, sains, dan teknologi;
·
Memacu terjadinya peningkatan mutu
pendidikan, khususnya bidangmatematika, sains, dan teknologi pada jenjang
pendidikan menengah;
·
Meningkatkan rasa persaudaraan dan
persatuan antar generasi mudaIndonesia;
·
Memberikan kesempatan kepada peserta
didik jenjang pendidikan menengahuntuk mengenali keragaman budaya dari berbagai
wilayah Indonesia;
·
Meningkatkan kreativitas peserta didik
jenjang pendidikan meneng
4. Sistem Pelaksanaan Olimpiade
Fisika
1.
Babak penyisihan
·
Peserta menjawab soal pilihan ganda
sebanyak 40 buah.
·
Materi soal :
Mekanika
Alat
Optik
Suhu
dan Kalor
Fluida
Statis
Bunyi
dan Gelombang
Listrik
·
Jika jawaban benar bernilai 4, tidak
menjawab bernilai 0 dan salah bernilai -1.
·
Waktu pengerjaan 120 menit.
·
Dalam babak penyisihan mencari 15 orang
finalis untuk melaju ke babak semifinal pada hari kedua.
2.
Babak semifinal
·
Peserta menjawab soal uraian sebanyak 5
buah dengan mencantumkan cara menjawab pada lembar jawaban yang diberikan
panitia pada saat lomba.
·
Materi :
Mekanika
Suhu
dan Kalor
·
Waktu pengerjaaan 60 menit.
·
Dalam babak semifinal mencari 8 orang
finalis untuk melaju ke babak final.
·
Skor maksimal : 100
3.
Babak final
Terdiri
dari 2 sesi, yaitu :
1. Sesi Praktikum
·
Setiap Finalis akan diberikan
masing-masing alat percobaan dengan cara melakukan pengundian langsung dengan
nomor urut pesertanya. Alat percobaan terdiri dari 4 jenis alat yang berbeda.
Setiap jenis alat terdapat 2 alat yang sama.
·
Setiap Finalis diberikan permasalahan
yang dipecahkan dengan menggunakan alat percobaan yang diberikan.
·
Materi percobaan terdiri atas materi
Mekanika, Getaran dan Gelombang.
·
Waktu yang diberikan pada sesi praktikum
ini 45 menit.
2.
Sesi Presentasi
·
Setiap Finalis akan mempresentasikan
masalah yang sudah dipecahkan pada sesi praktikum sebelumnya di depan Juri yang
telah ditentukan.
·
Waktu yang diberikan kepada setiap
finalis untuk mempresentasikan masalah yang sudah dipecahkan adalah maksimal 5
menit.
·
Tidak ada sesi tanya jawab saat
presentasi.
·
Dalam babak final 3 orang peserta akan
ditentukan urutan juaranya.
5. Seleksi Olimpiade Sain Nasional
Bidang Fisika
Olimpiade
sains adalah suatu ajang kompetisi siswa/wi tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan
bahkan perguruan tinggi.
Di
tingkat SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA Olimpiade sains adalah kegiatan tahunan yang
disebut dengan Olimpiade Sains Nasional (OSN) yakni ajang berkompetisi bagi
para siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA di Indonesia. Adapun bidang yang di
olimpiadekan adalah : Jenjang SD: Matematika dan IPA, Jenjang SMP: Matematika,
Fisika, Biologi, dan pada tahun 2008 ditambahkan bidang baru yaitu Astronomi,
Jenjang SMA: Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Astronomi, Komputer, Ekonomi,
dan pada tahun 2008 ditambahkan bidang baru yaitu Kebumian. Siswa yang
mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) adalah siswa yang telah lolos seleksi
tingkat kabupaten dan propinsi dan karenanya adalah siswa-siswa terbaik dari
propinsinya masing-masing.
Olimpiade
Sains Nasional diadakan setiap tahun di kota yang berbeda-beda. Kegiatan ini
merupakan salah satu bagian dari rangkaian seleksi untuk mendapatkan
siswa-siswa terbaik di seluruh Indonesia yang akan dibimbing dan diikutsertakan
pada olimpiade-olimpiade tingkat internasional. Sampai saat ini Olimpiade Sains
Nasional (OSN) telah dilaksanakan sebanyak tujuh kali : tahun 2002 di
Yogyakarta, tahun 2003 di Balikpapan-Kalimantan Timur, tahun 2004 di
Pekanbaru-Riau, tahun 2005 di Jakarta, tahun 2006 di Semarang-Jawa Tengah,
tahun 2007 di Surabaya-Jawa Timur, tahun 2008 di Makassar-Sulawesi Selatan dan
tahun 2009 ini akan dilaksanakan di Jakarta.
Dampak
Olimpiade Sains (Fisika) Bagi Pelajar
Medali-medali
yang diperoleh siswa-siswa Indonesia dan beasiswa yang diterima oleh para
peraih medali ini ternyata telah membangkitkan semangat kompetisi dari
siswa-siswa lain untuk mengikuti olimpiade sains (fisika). Ini terlihat dari
banyaknya peminat mereka yang ingin ikut seleksi olimpiade fisika. Dimulai dari
56 siswa di tahun 1993 hingga sekarang tiap tahunnya ada sekitar 2500 orang
yang ikut test seleksi awal (ini tidak termasuk test seleksi tingkat sekolah
dan tingkat kabupaten). Semangat kompetisi secara tidak langsung telah
memperbaiki mutu para pelajar ini.
Meningkatnya
semangat siswa untuk berkompetisi ini terlihat juga waktu diadakannya seminar
ke daerah-daerah. Begitu banyak siswa-siswa yang tertarik untuk ikut olimpiade
sains (fisika). Banyak diantara mereka telah mempersiapkan diri dengan belajar
fisika tingkat tinggi. Semangat kompetisi ini juga terlihat dari semakin
banyaknya siswa yang berminat mengikuti lomba-lomba fisika tingkat nasional
yang diadakan oleh universitas lokal seperti: IPB Bogor, UNRI, Unpar
(Palangkaraya), UKI Jakarta, Unika Atmajaya Jakarta, UPH Karawaci, ITB Bandung,
Unnes Semarang, Unair Surabaya dan sebagainya. Lomba-lomba fisika lainnya juga
banyak diadakan antar sekolah. Dampak lainnya adalah meningkatnya kepercayaan
diri dari pelajar Indonesia yang akan bertanding. Ini terasa sekali terutama
ketika Tim Indonesia hendak berangkat ke Olimpiade. Semangat mereka sangat
tinggi dan optimisme dan rasa percaya diri untuk meraih medali emas sangat
tinggi. Mereka begitu optimis dapat mengalahkan siswa-siswa dari negara lain.
Rasa percaya diri inilah yang telah menjadi faktor penting tim fisika untuk
meraih 6 medali emas dalam olimpiade Fisika Asia ke 4 di Thailand April 2003,
sekaligus merebut gelar juara umum (makalah Prof. Yohanes Surya, P.hD).
Sedangkan pada tahun 2006 Indonesia berhasil menjadi Juara dunia Olimpiade
Fisika Internasional ke-37 dengan 4 emas (1 Absolute Winner) dan 1 perak.
Dampak
lain dari olimpiade sains (fisika) adalah tumbuhnya kecintaan sains fisika bagi
anak- anak SD dan SMP ini terlihat dari banyaknya mereka yang suka menonton
acara-acara kuiz di TV yang berhubungan dengan fisika seperti Galileo (SCTV),
Petualangan Dunia Fantasi (RCTI), dan LG Prima (Indosiar). Juga bisa dilihat
semakin menjamurnya lembaga-lembaga seperti High Tech High Touch, Mad Science,
Einstein Junior dan sebagainya yang membuat pelatihan-pelatihan fisika/IPA
melalui berbagai percobaan-percobaan menarik.
Dampak
Olimpiade Sains (Fisika) Bagi Guru
Olimpiade
Fisika Internasional telah mendorong para guru untuk memperbaiki pola
pengajaran fisikanya. Ini terlihat dari meningkatnya permintaan training guru-guru
fisika baik dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya,
Medan, Makassar maupun dari kota-kota kecil seperti Bogor, Kupang, Palangkaraya
dan sebagainya. Pada umumnya keinginan guru ditraining ini disebabkan karena
banyaknya pertanyaan soal-soal seleksi dan soal olimpiade fisika yang tidak
bisa dijawab oleh siswa. Siswa yang kebingungan berusaha bertanya pada sang
guru. Karena tidak mampu menjawab, para guru ini merasa bahwa dirinya perlu
mendapat pelatihan lagi. Banyak guru terutama guru yang berusia muda, merasa
tertantang untuk mempersiapkan siswanya dengan baik.
Guru-guru
di SMU Taruna Nusantara Magelang, membagi siswa-siswanya dalam
kelompok-kelompok belajar untuk membahas soal-soal olimpiade fisika sebagai
persiapan mengikuti seleksi, demikian juga yang dilakukan oleh para guru di
SMUN 4 Denpasar, SMU Sutomo I Medan, SMU Santo Thomas I Medan (baru dimulai
tahun ini dirintis oleh Mula Sigiro) atau SMU-SMU lain. Bahkan di Jakarta di
adakan pelatihan rutin untuk guru dan siswa setiap bulan untuk olimpiade fisika
ini. Dampak olimpiade fisika ini ternyata tidak hanya melanda sekolah-sekolah
umum saja, tetapi juga pesantren-pesantren. Permintaan training guru dari
pesantren-pesantren mulai berdatangan dari yang ada di Tangerang, Indramayu,
Jawa Tengah dan berbagai tempat di Indonesia. Disamping training fisika teori,
training fisika eksperimen juga diminati guru, terutama bagi sekolah yang
peralatan eksperimennya tidak lengkap. Mereka ingin tahu bagaimana mengajar
dengan menggunakan berbagai alat peraga sederhana seperti dengan sedotan, tali,
gelas dan sebagainya.
Dampak
Olimpiade Sains (Fisika) Bagi Bangsa
Prestasi
yang dicapai oleh Tim Indonesia dalam Olimpiade Fisika telah mengangkat tinggi
nama bangsa dan negara kita. Hasil ini juga telah meningkatkan rasa percaya
diri sebagai bangsa yang besar. Kini kita bisa berdiri tegak, mengatakan bahwa
kita sebenarnya tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain dalam kemampuan berpikir
dan mengerjakan soal-soal fisika yang dianggap orang sebagai mata pelajaran
tersulit. Self esteem atau rasa percaya diri ini merupakan modal yang sangat
kuat untuk membangun bangsa yang kuat.
Hal
yang lain diperoleh adalah kini anak bangsa yang telah mewakili Indonesia dalam
olimpiade fisika mendapat beasiswa kuliah di berbagai universitas top di luar
negeri seperti MIT (Massachussett Instute of Technology), Princeton University,
Caltech (California Institute of Technology), Tokyo University, Kyoto
University, University of Maryland, Taiwan National University, Nanyang
Technological University dan sebagainya. Prestasi mereka di berbagai
universitas top ini sangat luar biasa. Banyak penghargaan diperoleh seperti
juara pertama penemuan teknik digital di Jepang, terpilih sebagai siswa terbaik
di Amerika Serikat (20 besar) dan sebagainya (artikel International Physics
Olympiad (IPhO) 1). Mereka ini merupakan aset-aset bangsa yang sedang dipoles
untuk menjadi orang-orang besar yang memiliki karya-karya yang hebat dan
mengharumkan nama bangsa. Dan ini adalah akibat olimpiade sains (fisika).
Respon
Pemerintah Terhadap Prestasi Peraih Medali
Polemik
yang dulunya mengatakan bahwa para insan muda Indonesia yang berprestasi
cenderung di acuhkan oleh pemerintah, namun hal tersebut sudah terobati dengan
pernyataan bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya menerima
350 peserta Asia Science Camp 2008 Selasa malam (05 Agustus 2008) di Istana
Tampak Siring Bali mengatakan “Bagi peraih Medali Emas di ajang olimpiade sains
Internasional pemerintah memberikan beasiswa penuh untuk memilih melanjutkan
pendidikan ke universitas manapun di dunia hingga program doktor, sedangkan
untuk peraih medali Perak sampai program master” (sekretariat Negara RI , 06
Agustus 2008). Pemerintah mengalokasikan dana 21 milyar untuk membiayai pendidikan
di jenjang perguruan tinggi bagi para peraih medali di ajang olimpiade
internasional dan hal ini telah dimulai untuk seluruh peserta peraih medali
dari tahun 2004 sampai dengan sekarang (Jakarta – KOMPAS, 18 Desember 2008).
Namun pemerintah tetap menekankan agar para siswa itu setelah menempuh
pendidikannya di luar negeri kembali ke tanah air untuk membangun bangsa
Indonesia. Pemerintah juga memberikan uang tunai 5 sampai dengan 20 juta bagi
peraih medali baik tingkat SD-SMP dan SMA.
Adapun
yang menjadi permasalahan adalah rendahnya kesadaran para pendidik untuk
mengemban gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, sehingga banyak sekolah yang tidak
memiliki tim olimpiade sekolah, di Sumatera Utara misalnya, hanya ada sekitar
10 sekolah yang memiliki tim olimpiade dan mengerjakan pembinaan/pelatihan
dengan serius. Diharapkan pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah dapat
mengambil langkah konkrit untuk memotivasi amanah pendidik sebagai “Pahlawan
Tanpa Tanda Jasa”. Hanya satu kunci untuk meningkatkan pembangunan bangsa ini
yakni mengutamakan sektor pendidikan.
Strategi
Menghadapi Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2009 – Jakarta
Dalam
pertemuan persiapan TOT pembina Olimpiade Provinsi yang dilakukan di Cisarua
tanggal 25 - 27 Februari 2009, Direktorat Pembinaan SMA Depdiknas mengumumkan
tentang jadwal OSN 2009 terbaru : - Tingkat Kab/Kota (OSK) : Pertengahan April
2009 - Tingkat Propinsi (OSP) : Pertengahan Juni 2009 - Tingkat Nasional (OSN)
: 3 - 9 Agustus 2009 di Jakarta. Kegiatan TOT Pembina Olimpiade Provinsi sendiri
akan dilaksanakan pada tanggal 3 - 6 Maret 2009 di Bandung. Pembina Olimpiade
Provinsi akan membantu Pembina Pusat dalam hal pembinaan baik guru maupun siswa
agar siap mengikuti seleksi dari tingkat kab/kota hingga OSN.
Setiap
guru sains juga di sekolah diharapkan aktif dan kreatif membentuk tim olimpiade
sains yang mungkin harus rela berkorban tanpa di honor karena sangat minim
sekolah bahkan pemerintah setempat yang mendukung secara nyata program-program
seperti ini. Kemudian para guru sains dapat melihat silabus atau topik
pelajaran yang akan keluar di seleksi olimpiade melalui internet dengan membuat
kata kunci berikut : TOFI (fisika), TOBI (biologi), ICO (kimia), TOKI
(komputer) atau kata kunci lainnya di htp/www.google. com. Kemudian silabus dan
soal-soal olimpiade sebelumnya di pelajari dan dibahas tuntas di sekolah maka
hal tersebut akan sangat berdampak meningkatkan prestasi peserta yang akan
dikirim sebagai utusan sekolah dalam mengikuti seleksi OSN, karena selama ini
yang menjadi permasalahan adalah sangat jarang guru dan siswa mengetahui
gambaran soal-soal dan silabus olimpiade padahal soal-soal dan silabus tersebut
akan dapat dikuasai oleh setiap siswa dan guru apabila tekun dipelajari.
Pada kesempatan ini saya akan berbagi Silabus
Olimpiade Sains Nasional bidang fisika. Berikut Silabus Olimpiade Sains
Nasional (OSN) 2018 Bidang Lomba Fisika yang mmeiliki Beberapa ciri umum
soal-soal tes olimpiade:
§
Dalam soal. Osk fiisa
Pertanyaan umumnya bersifat analisa kuantitatif (simbolik maupun numerik).
§
Soal yang dikeluarkan
pada osk adalah soal yang memerlukan pemahaman fisis, bukan sekedar manipulasi
matematika nya saja. Siswa memang di tuntut paham betul makna
fisisnya. Bukan main hapal rumus nya saja.
§
Dalam penyelesaiam
soal osk fisika pelajaran Matematika yang dibutuhkan relatif sederhana yaiti
materi aljabar, geometri, trigonometri dan kalkulus sederhana)
Karakteristik soal Seleksi Kabupaten/Kota (OSK)
Bentuk Soal OSK FISIKA SMA 2018 merupakan seri pertanyaan singkat yang menuntun
§
Soal osk fisika sma
tingkat kabupaten 2018 nanti terdiri dari 6-8 soal
§
Waktu untuk
mengerjakan soal tersedia total nya 3 jam
Seleksi provinsi (OSP)
1. Soal merupakan pertanyaan singkat yang membutuhkan pemahaman fisis mendalam
2. Terdiri dari 6-8 soal
3. Tersedia Waktu total 3,5 jam untuk mengerjakan persiapan UNBK.
Olimpiade Sains Nasional (OSN) teori
1. Soal merupakan seri pertanyaan panjang
2. Soal yang di lombakan Terdiri dari 4-5 soal
3. Waktu pengerjaam seluruhnua di total 5 jam

0 Comments